Sunday, July 13, 2014

Akses Diblokir!



Waktu masih ada pekerjaan di sebuah kantor di daerah Karet Tengsin, Jakarta Pusat, nyaris setiap hari Nina ngantor ke sana. Pergi-pulang ditempuh dengan menumpak CL—commuter line, yang dahulu dikenal sebagai KRL atau kereta rel listrik; pada jam-jam kantor sehingga setiap perjalanan bagaikan sebuah perjuangan.

“Yaaa, kalimat itu memang kalimat klise, tapi demikianlah keadaan yang sesungguhnya,“ Nina beralasan.

Meski sebetulnya, dia hanya berpikiran seperti itu kalau mood-nya sedang negatif. Apabila sedang dalam kondisi positif, biasanya sih dia akan menyebutnya sebagai sebuah petualangan.

CL rute Tanah Abang dari Bogor/Depok adalah yang menjadi kendaraan hariannya. Berhubung jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan rute Jakarta Kota, maka, padatnya dijamin luar biasa pada waktu-waktu yang disebut sebagai jam-jam kantor. Pagi hari sampai dengan jam 9 pagi sering  masih sesak. Jam 10 situasinya mungkin sudah agak lumayan meskipun masih belum dalam kategori bisa buka tenda di dalam gerbong.

Sebagai catatan lumayan penting diketahui—barangkali—Nina selalu naik di gerbong khusus wanita. Kan dia wanita...  Di setiap rangkaian CL, gerbong khusus tersebut ada dua. Yang paling depan dan yang paling belakang. Untuk rute ke Tanah Abang ini rangkaian hanya terdiri dari delapan gerbong, maka berarti yang paling belakang adalah gerbong nomor delapan—ini adalah sebagai catatan biasa saja, sebab sebenarnya tak ada kepentingannya disebutkan di sini.

Seringkali di stasiun asal Nina, Pasar Minggu Baru, ramai calon penumpangnya. Menjadi persoalan juga sebab lalu harus berebut untuk bisa masuk ke dalam gerbong yang sudah padat. Tak jarang rekan seperjalanan yang berada di depan Nina, begitu sudah naik, terkesan seperti memblokir akses dengan tangannya. Seolah mencegah supaya yang berada di belakangnya tak bisa menyusul masuk. Demikian pandangan negatif Nina, tapi mungkin maksudnya sih berpegangan supaya tak terdorong keluar lagi. Yang pasti, kadang membuat Nina terjepit bila penumpang di belakangnya tak mau kalah dan terus merangsek masuk. Tapi tak perlu waktu lama bagi Nina sampai akhirnya dia berhasil mengadopsi gaya mendorong masuk seperti yang sering dilakukan calon penumpang di belakangnya. Melawan tanpa gentar posisi bertahan si penumpang di depan sampai orang itu terdorong masuk. Dipahaminya juga dengan segera bahwa ransel yang menggelembung yang selalu dicangklongkan di bagian depan badan ternyata dapat menjadi alat bantu mendorong yang berguna.

Tapi ada juga masalah lain yang harus dihadapi Nina. Bila akhirnya ia berhasil masuk ke dalam sesaknya gerbong, tak jarang ia merasa bahwa penumpang lain di depannya yang adalah sesama perempuan, seolah sengaja menahan laju masuknya. Tentu Nina paham bahwa kereta sudah penuh sesak, tapi kalau ada peremuan lain yang masuk, bisa saja tuh. Dengan penuh pengertian mereka mau saja bergerak sebisanya demi meluangkan tempat. Kenapa sih..., gumam Nina dalam hati dengan jengkel.

Dalam berbagai kesempatan yang bagus, Nina menjadi satu-satunya penumpang yang naik. Berarti, perjuangan menjadi separo lebih enteng, tapi bukan berarti tak berat. Sebab, lebih sering terasa ada penolakan, dan, ini yang paling bikin Nina gedeg, dia kerap mendapat pelototan dari banyak mata mbak-mbak, ibu-ibu, tante-tante, nenek-nenek di dalam gerbong.  Pernah pula sampai ada penumpang yang mendecak jengkel gara-gara Nina tak menyerah dan terus merangsek masuk. Tiap kali mengingat orang berdecak demikian, ditambah dengan betapa tak enaknya berada di bawah sorotan sekian belas pasang mata yang melotot penuh rasa tak suka; mangkel rasanya hatinya.

“Sebegitu berdosanya kah aku yang berusaha untuk turut terangkut kereta? Hmmm..., sebal!”  Demikian jeritan hati Nina—lebay sedikit bolehlah.

Barangkali memang Nina itu berotak lamban, karena, cukup memakan waktu baginya untuk menyadari di mana letak permasalahnnya. Tentu saja dia tak mau donk dianggap salah, jadi dia menganggap mereka, para perempuan di dalam gerbong khusus wanita tersebut, adalah orang-orang yang hanya mampu menilai orang dari luarnya saja. Ya kan? Dan, tambah Nina lagi, sangat diskriminatif.

Kenapa Nina berkesimpulan sedemikian rupa? Sebab, akhirnya Nina memahami bahwa unsur rambut plontosnya, dan karena dada yang selalu tertutup ransel sehingga tidak memperlihatkan ciri khas fisik perempuan yang paling mudah terlihat; membuatnya langsung disimpulkan sebagai lelaki. Arti dari semua kejadian yang dialaminya itu, di mana ia seperti dicegah masuk adalah karena rupanya dia dianggap sebagai salah kamar, eh, salah gerbong.

Bermodalkan pemahaman baru itu, Nina mulai mengatur strategi. Di hari pertama strategi tersebut hendak dipentaskan, gerbong khusus wanita yang ditujunya tidak terlalu pol sesaknya tapi lagi-lagi akses masuknya cukup dipersulit. Halangan yang segera dihadapinya adalah dari seorang ibu setengah baya yang cara berpakaiannya mengingatkan Nina akan almarhumah ibunya di saat beliau hendak pergi mengajar. Rapih, keibuan, keguruan—mungin yang terakhir ini ngarang belaka. Di belakangnya, penumpang lain jelas memasang tampang tidak suka. Maka, strategi pun Nina luncurkan. Dengan suara keras ia melantangkan pengumuman.

“Oi, saya naik gerbong ini karena saya perempuan loh, saya bukan laki-laki loh... Oi, perempuan loh saya... Bukan lelaki loh saya”.

Si ibu tadi yang semula memandang Nina dengan wajah galak, mendadak tersenyum kecut sambil ber”hehe...” tanpa rasa bersalah. Terbersit dalam pikiran Nina bahwa pasti si ibu itu menganggap dirinya senior secara umur dibandingkan Nina. Sehingga, dia tak merasa perlu minta maaf atas ketaksopanannya. Padahal, kalo soal umur mungkin dia dan Nina tidak berbeda jauh. Nina saja yang tampaknya lebih irit sedikit.

Tapi yang paling hebat adalah, tiba-tiba terdapat ruang yang cukup bagi Nina untuk bergerak dengan leluasa dan mengalir lancar menuju bagian dalam gerbong. Seperti ada celah memanjang yang terbuka, membuatnya merasa bagaikan Nabi Musa yang tengah membelah lautan... §


 Gerbong khusus wanita CL yang padat

Wednesday, July 9, 2014

Pesta Demokrasi 2014




Tak lagi dapat diingatnya seumur-umur sudah berapa kali si Nina ini ikutan pemilu. Berhubung cukup sering golput, dan, yah begitulah, karena daya ingatnya juga lemah.

"Kapan pertama kalinya kamu ikut, Nina?" aku bertanya padanya yang sedang bersusahpayah mengorek kenangan dalam pikirannya.

"Hmmmm....," gumamnya masih berpikir.

Dan, masih juga dia berpikir sehingga dengan amat sangat terpaksa aku menancapkan beberapa kuku kaki kiri depanku di lengannya.

"Au! Sakit, kan!" jerit Nina.

Kupelototi dia dengan mata bulatku ini, bertanya sekali lagi tapi tanpa kata-kata.

"Pertama kali ikut tahun 1971, Moy," katanya sambil mentutulkan betadin Tiongkok dibekas tempat aku menancapkan kuku-kukuku barusan.

Yang benar saja, masak sih pada 1971 Nina sudah ikut serta dalam pemilu? Saat itu dia kan baru duduk di bangku kelas empat sekolah dasar!

Ah, ternyata maksudnya itu adalah pemilu legislatif pertama di masa orba (orde baru). Waktu itu partai politiknya masih banyak, tampil berderet di lembar pemilihan. Tentu Nina tidak ikut mencoblos, melainkan hanya ikut-ikutan meramaikan saja. Katanya, terutama waktu penghitungan suara di TPS (tempat pemungutan suara) yang berada di depan rumahnya, suasananya ramai sekali! Seru!—dasar bocah! 

Tahun 1971 itu almarhum ayahnya Nina masih militer aktif di angkatan udara, jadi beliau tidak ikut serta. Suaranya sudah 'dirampas' oleh Golkar. Nina tak ingat apakah almarhum ibunya yang berstatus istri tentara itu punya hak mencoblos atau tidak. Masa kelam, setidaknya kelam dalam pikiran Nina alias sudah lupa. Namun cukup jelas diingat Nina ekspresi sang ayah ketika beliau akhirnya bisa memilih. Setelah beliau pensiun dari dinas ketentaraan, tentunya.

"Heheh, akhirnya ayah bisa memilih pilihan ayah sendiri," kata beliau senang sekembalinya dari TPS.

Waktu itu partai untuk dipilih tinggal tiga partai saja, tidak bererot seperti enam tahun sebelumnya. Masing-masing diwakili oleh warna kuning, hijau, dan merah. Entah yang mana yang dipilih si ayah, beliau mungkin mengungkapkannya ke Nina, mungkin juga tidak. Mungkin saja Nina sudah lupa. Yang pasti, bukan yang berwarna kuning. Sebab, seperti yang dikatakan si ayah, sekian lama suaranya telah dipakai oleh si kuning, suka atau tidak suka. Sudah cukup. 

Tahunnya adalah 1977. Nina belum cukup umur untuk punya KTP (kartu tanda penduduk), jadi belum punya hak suara juga. Ia baru masuk sekolah menengah umum atas, kelas satu. Masuknya siang hari, setelah jam duabelas. Di hari tertentu itu, sesampai di sekolah, dilihatnya bahwa di halaman sekolah ada TPS. Untuk penduduk sekitar dan murid-murid kelas dua dan kelas tiga menyalurkan suaranya. Pada masa itu sekolah tidak diliburkan demi pemilu. Yang mau memakai hak suaranya, bisa dilakukan di lingkungan sekolah. 

Akhirnya, pada 1982 tiba waktunya untuk Nina ikut pemilu. Dengan deg-degan dia masuk ke bilik suara, dengan perasaan rada takut salah dan menggerutu dalam hati ketika melihat bahwa alat tusuknya ternyata hanya sebuah paku yang luar biasa besar. Tidak sesuai dengan yang dilihatnya di baliho-baliho propaganda pemilu, di mana alat tusuknya berupa piringan kecil bergagang. Di bagian bawah dari piringan tersebut terdapat sejumlah paku-paku kecil. Bentuk piringan nya seperti pik kecil yang terbalik. 

Omong-omong, yang namanya pik itu adalah sebuah piringan dengan sejumlah paku kecil, yang pada masa itu dipakai untuk merangkai bunga. Fungsinya serupa dengan semacam busa hijau yang kini populer dipakai oleh toko-toko bunga, untuk menancapkan bunga dalam sebuah karangan atau rangkaian.

Berikutnya, tak ada dalam simpanan ingatan Nina apakah antara 1982 dan 1999 ia ada mengikuti pemilu lagi.

1999 sudah bukan masa orba, tapi sudah termasuk jaman reformasi. Pemilu masa reformasi pertama kali diadakan pada tahun 1999 itu. Mulanya, Nina berniat untuk ber-golput-ria. Meski sudah bukan jaman orba, tapi menurut Nina situasi politik tidak terasa menyegarkan. 

Pada masa-masa itu Nina kerap bekerja untuk wartawan sebuah radio dari salah satu negara di Eropa, dalam peliputan-peliputannya di Indonesia. Sebelum pemilu, mereka meliput ke propinsi D.I. Aceh (sekarang Nanggroë Aceh Darussalam). Biasanya mereka pergi berdua, tapi kali itu istrinya ikut serta. Menemani suami sembari liburan.

Pembicaraan dimulai oleh sang istri, yang bertanya kepada Nina sesuatu yang berhubungan dengan pemilu yang akan berlangsung beberapa minggu ke depan. Kalau tidak salah pertanyaan adalah tentang partai yang bagaimana kira-kira akan dipilih Nina.

"Saya tidak akan memakai suara saya," jawab Nina enteng. 

Tak diduga, si nyonya pun menceramahi Nina. Katanya, dalam sebuah pesta demokrasi macam itu adalah sebuah kerugian apabila kita si pemilih tak memakai hak suara kita. Dan sebagainya. Dan seterusnya. Dan lain-lainnya. Tapi, bukan kuliah singkat panjang lebar si istri yang membuat Nina memutuskan untuk akhirnya batal golput (golongan putih). Melainkan, karena si wartawan berlogika apabila Nina mencoblos sekaligus meliput, bisa memudahkan peliputan. Jadi, baiklah!

Pada hari H, sejatinya TPS tempat Nina memilih berada di sebuah wilayah di Jakarta Timur. Sementara TPS yang akan diliput berada di Menteng, Jakarta Pusat. Maka, berarti Nina harus pindah TPS. Saat itu peraturannya berbeda dengan sekarang, tidak ada yang namanya formulir A5 seperti yang sekarang dikenal luas. Waktu itu, disarankan entah oleh siapa, untuk datang langsung ke TPS pengganti. Berpikir Nina, bahwa kalaupun ditolak, ya sudah tak jadi soal. Tokh sesungguhnya dia memang bermaksud untuk golput.

Di TPS tujuan, Nina melapor untuk numpang memasukan suara. Ditunjukkannya lembar panggilan/pemberitahuan pemilih dari kelurahan asal. Disampaikannya keperluan mendadak pindah TPS, sebab sebagai wartawan ia tengah bertugas meliput pemilihan umum. Kartu pers resmi dari media centre penyelenggara pemilu pun ditunjukkan. Nina diterima dengan baik. Langsung bisa masuk ke bilik pemilihan tanpa harus menunggu. Yah, kebetulan masih sepi. Tapi, percayalah, kalau tak ada kartu pers tersebut belum tentu bisa segampang itu urusannya. Apalagi TPS tersebut adalah tempat di mana anggota keluarga Cendana yang sudah tak berada di tampuk kekuasaan memberikan suaranya. 

Maka, pada pemilu 1999 itu dengan sukses Nina batal menjadi golput. Ah, apakah sebenarnya golput itu? Sederhananya, golput adalah jukukan bagi orang-orang yang enggan memilih atau memberikan suaranya pada pemilu. Biasanya pada hari H mereka tak akan muncul di TPS. Tapi, menurut Nina, mereka yang masuk ke bilik pemilihan lalu merusak kertas pemilihan sampai menjadi tak sah, atau tidak mencoblos sama sekali, adalah golput juga. Golput yang diam-diam, begitu. 

Akan tetapi, sesungguhnya golput adalah sebuah gerakan moral yang dicetuskan oleh cendekiawan Arief Budiman dan teman-temannya pada 3 Juni 1971 di Balai Budaya Jakarta, satu bulan sebelum pemilu pertama jaman orba dilaksanakan. Tujuan dari gerakan moral golput bukanlah untuk memperoleh kemenangan politik. Melainkan, untuk melahirkan tradisi supaya ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dan dalam situasi apapun.

Ringkasnya demikian. Buat yang ingin tahu lebih banyak mungkin bisa bikin riset sendiri ya...

Kembali ke persoalan Nina dan pemilu, setelah pemilu 1999 itu, Nina tak pernah lagi berminat untuk mencoblos. Baik itu pemilu legislatif, pemilihan presiden, ataupun pilkada DKI. Pada pilkada DKI 2012, Nina masih tetap tak peduli. Hanya saja, menjelang putaran kedua ia terusik untuk menanggalkan emblim golputnya. Tiba-tiba saja ada pemikiran bahwa mungkin sebaiknya gubernur lama yang juga sedang ikut pemilihan, tidak terpilih lagi. Maka, Nina memilih lawannya, tanpa terlalu banyak berharap. Dengan pemikiran setelah pasangan tersebut menang dan ternyata mereka kerja bagus, anggap saja dapat bonus. Pasangan tersebut, Jokowi-Ahok, kenyataannya tak hanya menang, tapi mereka juga memberi bonus yang tak diharapkan oleh Nina.

Datanglah 2014 yang sudah lama digadang-gadangkan sebagai tahunnya pemilu.

"Tak hirau," pikir Nina.

Rangkaian pemilu pada 2014 ini dimulai dengan pemilu legislatif pada 9 April. Praktis libur, Nina memilih memperpanjang tidur di rumah. Setelah pileg berlalu, keluar keputusan bahwa ada dua pasang calon saja yang akan melaju ke perlombaan memperebutkan kursi presiden dan wakilnya. Terus terang, Nina tak merasa sreg dengan keduanya. Salah satunya adalah Jokowi. Pada yang satu ini, ada kekecewaan dalam diri Nina karena sang gubernur DKI terpilih itu sepertinya lari dari tugasnya yang baru jalan separo masa jabatan.

Sewaktu Jokowi sudah terpilih menjadi gubernur DKI, banyak orang yang lalu berseru "Jokowi for president 2014!". Menurut Nina, kalau orang ini mencalonkan diri jadi presiden sementara masa tugas sebagai gubernur belum selesai, apalah bedanya dia dengan politikus lainnya? Tak maulah Nina memilihnya. Karena itu Nina pun berpikir untuk tetap golput. Malas!

Tapi, melihat situasinya secara keseluruhan dan dengan mempertimbangkan berbagai hal, Nina melihat koq sepertinya ia harus memakai hak suaranya. Untuk sang gubernur DKI non aktif itu. Menjilat ludah sendiri, donk!?

"Untuk Indonesia, tidak mengapa!" tegas Nina—dan sepertinya Nina bukan satu-satunya orang yang menjilat ludahnya sendiri.

Memilih Jokowi itu sekedar untuk mencegah calon yang satu naik. Sesederhana itu. Seperti waktu Nina memilih Jokowi sebagai gunernur DKI, memilih tokoh yang satu ini untuk menjadi presiden juga tanpa harapan apa-apa. Kalau dia pada akhirnya bekerja dengan baik, maka, seperti pemikiran sebelumnya juga, itu akan menjadi bonus semata. Dan Nina pun menjalani hidup dengan santai. Biarpun memutuskan untuk tak golput, tapi tetap berpikir apabila ternyata tak ada panggilan tertulis, ya sudah, sampai di situ saja. Tak masalah. Memilihnya pun harus ke Bintaro. Kan jauh tuh.

Namun, dengan bergulirnya waktu, tanpa sadar mengamati kampanye melalui media online dan media sosial, perlahan pandangan Nina berubah. Semakin mendekati hari H, 9 Juli 2014, semakin bersemangat dia. Timbul kecemasan-kecemasan, apakah ia bisa benar-benar bisa memilih. H-16 kecemasannya membuncah, maka diusiknya kawan di mana KTP Nina beralamatkan.

"Belum ada panggilan pemilu buat gue!?" jerit Nina.

Belum ada.

H-6, kembali diusiknya sang kawan. Belum juga datang itu panggilan yang diidamkan. Sudah cek di situs KPU, ternyata ada nama Nina terdaftar di situ. Harapan beranjak naik meski baru sampai setengah tiang. Apes-apesnya, dia akan go show ke TPS yang nomernya sesuai dengan yang tercantum di namanya pada daftar di situs tersebut. Tapi bukan berarti tidak pro aktif donk. Setiap hari temannya di Bintaro itu diusiknya habis-habisan.

Sampai pagi H-2 Nina mendapat jawaban bahwa belum ada apa-apa. Harapan terpantek saja di setengah tiang nih. Namun, beberapa jam setelah melempar rengekan di H-2, sang kawan balik menghubungi.

"Udah dateng nih!!!" katanya. 

Wuhaaaa..., harapan Nina segera meluncur ketitik paling atas! Tring!!! Perlengkapan misi telah lengkap!

Sekarang, pada saat aku menyelesaikan catatanku ini, hari H tinggal beberapa jam lagi. Tapi, Nina masih belum bisa tidur. Terlalu tegang, cemas, gelisah; sekaligus semangat dan gembira untuk menceburkan diri ke pesta demokrasi teranyar ini. Pilihan sudah mantab, tinggal pelaksanaannya saja. Sebentar lagi. 

Aku tahu, Nina takut jagoannya akan kalah. Que sera sera, Nin, siapa sih yang tahu tentang waktu yang belum datang? Kuatkan hati saja, bersiap dengan segala kemungkinan. Dan, bersikaplah seperti kata-kata dalam lirik lagu kelompok Kill the DJ ini, Menang tak jumawa, kalau kalah lapang dada”. §





Ini dia lembar panggilan yang diharap-harapkan oleh Nina

Monday, June 30, 2014

Pirantimu di Gedung Bioskop



Belum lama ini di internet dan/atau media sosial beredar sebuah video iklan layanan masyarakat yang menarik—tentunya menarik untuk manusia ya, bukan untuk kucing macam aku. Persembahan sebuah perusahaan produsen mobil terkenal.

Iklan tersebut mengambil tempat di dalam sebuah ruang bioskop yang dipadati penonton. Ketika gelap sudah melingkup, di layar mulai tertayang adegan. Dengan sudut pandang dari dalam sebuah mobil, di mana penonton seolah berada di belakang setir. Mobil berlari dalam kecepatan yang tak rendah.

Tiba-tiba, semua telepon genggam dan/atau piranti sejenis milik penonton berbunyi dalam waktu yang bersamaan. Hasil rekayasa dari penyelenggara tontonan sebetulnya, yang tersembunyi dari mata para penonton. Semua orang dengan sigap mengeluarkan pirantinya masing-masing, dan mengalihkan pandangan dari layar bioskop ke monitor piranti mereka. Tak peduli bahwa mereka berada di dalam bioskop, di mana perhatian seharusnya terarah hanya ke layar besar di depan. Ketika semua sibuk mengamati pirantinya di tangannya itulah, sesuatu terjadi dalam film tersebut. Mobil menabrak sesuatu dengan suara keras. Semua penonton terkesiap, mengembalikan pandangan mata kembali ke layar film.

Semua mata terpaku ke layar dan  semua orang melongo dengan tegang. Mobil di layar sudah tak bergerak, kaca depannya pecah. Lalu, keluar sebentuk tulisan. Sebuah peringatan untuk umat manusia, bahwa menyetir sambil bertelepongenggam itu tinggi bahayanya.

Begitulah, betapa manusia tak bersedia untuk lepas dari pirantinya barang sekejap bahkan ketika sedang menonton di bioskop. Padahal kan sudah meluangkan waktu, dan khusus datang ke bioskop untuk menonton. Berada dalam bioskop dengan kemauan sendiri tanpa paksaan, dan dengan membayar pula—ah, tapi barangkali ada juga ya yang dipaksa pacarnya hehe... Sudah begitu, rela saja ketinggalan adegan-adegan penting dalam film yang, seharusnya, ditonton dengan konsentrasi penuh tapi kalah prioritas dibandingkan dengan piranti kesehariannya itu.

Dalam iklan layanan masyarakat di atas, terlihat bagaimana semua penonton memposisikan pirantinya untuh mudah di raih setiap saat. Artinya, mereka bersiaga untuk segera bereaksi bila ada panggilan masuk. Kalau si Nina berada di antara penonton di iklan itu, kemungkinan besar dia akan menjadi satu-satunya orang yang tak mengeluarkan telepon genggamnya.

"Aku selalu memasukan hape-ku ke ransel, dan ranselku aku letakan di bawah di antara kedua kaki. Bila ada panggilan masuk, pasti tak terdengar," demikian Nina beralasan.

Karena itu, suatu saat ketika sedang menonton sebuah film di satu sinepleks, Nina menjadi sangat terkejut ketika telepon genggamnya berbunyi dengan kerasnya. Namun, olala, ternyata suara itu bukan berasal dari telepon genggamnya. Melainkan, dari telepon genggam milik tokoh Lois Lane di film yang sedang ditonton. Ringtone-nya sama persis dengan panggilan masuk di telepon genggamnya Nina hahahaha...

Oh, tapi, kalau yang berbunyi adalah weker alias alarm clock, ugh..., bunyinya bisa sangat keras dan mengganggu. Percayalah, karena Nina pernah mengalaminya, gara-gara sehari sebelumnya lupa mematikan fungsi tersebut di telepon genggamnya. Dengan gaya sok kalem, dia merunduk-runduk ke ranselnya di bawah supaya bisa mematikan panggilan pengingat tersebut.

Dengan kebiasaannya menyimpan telepon genggamnya rapat-rapat dalam tas, seselesainya menonton kemungkinan Nina akan menemukan sekian banyak panggilan tak terjawab dan pesan-pesan singkat. Tak soal, tokh bisa dijawab setelah kelar menonton. Tak mau tuh dia seperti banyak orang yang cepat-cepat membalas pesan singkatnya, atau bahkan menjawab telepon masuk di tengah pertunjukan film dengan percakapan. Sama mengganggunya dengan suara orang yang mengobrol. Sebelum film dimulai, selalu ada peringatan dari pengelola gedung pertunjukan supaya penonton mematikan telepon genggamnya, dan agar tidak bercakap-cakap selama pertunjukan berlangsung. Tapi, tak pernah diambil pusing oleh penonton. Tak heran sih, demo keamanan penerbangan yang selalu ditampilkan pramugari sebelum penerbangan yang notabene ada hubungannya dengan keselamatan jiwa saja diabaikan. Apalagi peringatan tanpa resiko keamanan jiwa di bioskop begitu.

Tapi, sesungguhnya, yang paling mengganggu Nina dari pemakaian piranti semacam itu dalam ruang gelap sebuah bioskop adalah pijaran layarnya. Pijaran yang selalu muncul di kegelapan, sesuai dengan selera si pemilik untuk memeriksa apakah ada pesan baru untuknya atau tidak. Mungkin akan diikuti dengan adegan si pemilik mengetik sesuatu di situ. Mungkin menjawab sms/bb/dm/apa-aja-deh, mungkin juga meng-update status di ef-beh sebagai suatu pengumuman. “Nonton how to train your dragon 2 di anu-anu-anu. Now!”

Apa? Piranti diutak-utik karena sedang mengurus pekerjaan yang mendadak masuk dan tak bisa ditunda?

“Pergi donk keluar ruang bioskop. Cari tempat yang nyaman untuk menyelesaikan pekerjaan. Memangnya pekerjaan bisa dibereskan dengan setengah hati begitu, sembari liat Hiccup dan Toothless terbang-terbang!” gerundel Nina.

Yaaah..., nggak semua orang seperti kamu, Nin, yang kalau kerja perlu konsentrasi penuh. Kamu aja sih yang lamban hahaha...

Sering juga piranti berpijar tersebut manteng untuk beberapa lama.Sebab si pemilik meletakannya di pangkuannya, membiarkan monitornya yang terus bersinar itu menghadap ke atas. Sesekali si pemilik melirik sang piranti, dan layar monitor disentuh-sentuh sehingga pijarannya menjadi abadi.

Nina gagal paham kenapa orang menjadi begitu sangat tergantung dengan piranti perhubungannya tersebut. Sebaliknya, orang mungkin gagal paham kenapa pijaran piranti perhubungan itu bisa sangat mengganggu Nina. Kalau Nina akan menjawab, “pokoknya mengganggu!” Tapi aku akan menjelaskan sedikit sebab mengapa.

Nina sebetulnya tidak menyukai menonton film dan panggung pertunjukan. Sebab, pendaran cahaya dari layar/panggung di ruang pertunjukkan yang gelap akan menyakitkan matanya. Entah kenapa, belum tahu sebabnya. Silau, pokoknya begitu. Lalu kalau tiba-tiba di sana-sini ada titik-titik pijar lain, hal itu jadi makin menambah ketaknyamanannya kan. Silahkan heran, tapi itu kenyataan.

Ya sudah, demikian Nina berdamai pada dirinya sendiri. Maklum sajalah, namanya juga bioskop, sebuah ruang publik. Tempat umum di mana banyak orang yang bersikap seenaknya seolah di rumahnya sendiri. Lumayan kampungan, tapi ya apa boleh buat. Namanya hidup, yang macam itu pasti saja ada.

Maka, ketika Nina menonton di festival ChopShots dan Europe on Screen (EoS), Nina berprasangka pasti situasinya lebih baik. Kan, penontonnya lebih eksklusif, bukan ‘orang kebanyakan’. Dengan tempat yang juga ekslusif macam di GoetheHaus dan pusat kebudayaan asing lainnya.

Tapi, si Nina salah berpendapat tuh. Bahwa film-film pada festival ChopShots bukan film-film macam Hollywood yang digemari berbagai kalangan, melainkan film-film dokumenter yang penyukanya semakin mengerucut, bukan berarti mereka cukup sopan untuk menyimpan baik-baik telepon genggamnya saat menonton. Mata Nina masih menangkap pijaran monitor telepon genggam ternyata, telinganya bahkan menangkap suara panggilan masuk. Padahal, sebelum film dimulai, panitia khusus mengumumkan secara oral agar para penonton mematikan telepon genggamnya.

Yang di atas adalah situasi waktu festival dokumenter ChopShots. Di EoS ternyata situasinya lebih buruk. Mungkin karena pada EoS juga terdapat film-film cerita yang biasanya lebih menarik perhatian orang. Kalau ketika menonton di Chopshot deretan bangku di depan Nina lebih banyak kosong, sedangkan pada saat EoS lebih banyak terisi. Di antaranya terdapat manusia-manusia yang seolah akan mati bila tak mengecek telepon genggam atau tablet-nya setiap saat. Satu kali, orang yang duduk di sebelah kiri Nina adalah pelakunya. Sebentar-sebentar ia membuka tablet-nya. Kadang menulis sesuatu—ngobrol atau kerja sambil nonton ya sama saja ajaibnya. Sampai-sampai Nina tak tahan dan mentowel si empunya piranti.

"Mas, maaf, tapi hp-nya bikin silau mata saya," sembur Nina secara halus.

Si empunya piranti awalnya kaget, tapi lalu memandang Nina dengan pandangan, "Apa urusan gue kalo elo merasa terganggu," sambil terus lanjut dengan kesibukannya

Bweh...

Tapi, ada hal lain yang lebih spektakuler. Sebagian orang yang tidak menyimpan pirantinya di dalam tas atau saku, akan meletakkannya di pangkuan. Asik nonton jadi lupa, piranti pun melorot jatuh. Di gedung bioskop atau sineplek tempat duduknya selain empuk, terbukti aman menjaga piranti yang melorot itu. Tidak demikian dengan di GoetheHaus, yang lantainya pun bukan berlapis karpet melainkan kayu parket. Akibatnya, "Bletaaaaak!!!"

Pertama mendengar kegaduhan itu, Nina terkejut. Kedua kalinya, ia menepuk jidad. Ketiga kalinya cukup menghela nafas. Selanjutnya, sudah tak dihitung itu kali berapa meski tetap sebal.



Penonton ego di EoS, GoetheHaus.
Sibuk dengan piranti, plus tak peduli meletakan kaki bersepatu di senderan tempat duduk di depannya.