Friday, October 31, 2014

Pameran Foto Susan Kemenesi dan Agus Leonardus: IMAJI DAN KENYATAAN



Satu lagi tulisan lama Nina yang merupakan sebuah kritik fotografi. Dimuat di harian KOMPAS Minggu, 20-07-1997, halaman 24. Tulisan di bawah adalah versi editan Kompas berhubung versi aslinya sudah tidak jelas ke mana....


=^.^=

   BAHWA sebuah foto bermakna seribu kata bukan lagi adagium yang sepenuhnya benar. Sesungguhnya, foto adalah imaji yang terperangkap dalam penggalan waktu sehingga terlepas dari konteksnya. Jadi, foto tidak dengan sendirinya merekam makna, karena makna diberikan oleh
pemirsa, sesuai dengan rangsang yang bangkit dalam imajinasi. Fotonya sendiri hanya berfungsi sebagai pemicu bagi pemirsa untuk merefleksikan pengalamannya. Fitrah inilah yang sering dieksploitir
fotografer dalam mengomunikasikan gagasannya, dengan mengarahkan imajinasi pemirsa lewat judul atau teks foto, pengantar di katalog dan sebagainya.

   Dalam pameran foto di galeri TC yang berlangsung sampai 22 Juli 1997, pemirsa bisa melihat betapa ide dapat dipaparkan dengan gamblang lewat visualisasi serangkaian foto; atau malah sebaliknya. Dua orang fotografer dengan latar belakang dan pendekatan komunikasi berbeda, bercerita tentang dunia mereka lewat pameran berjudul bombastis International Photo Exhibition, Worlds and Zones.

   Zsuzsanna Kemenesi atau Susan (26) dari Hongaria, saat ini tengah belajar di ISI Yogyakarta. Tadinya ia merupakan mahasiswi jurusan pendidikan visual dan jurusan komunikasi di Universiy of Pecs, Hongaria. Para seniman yang hidup di negara-negara Eropa Timur di mana sensor sangat ketat, dalam berkarya cenderung memakai bahasa nonverbal. Kritik maupun gagasan selalu dibungkus dalam idiom
multiarti. Tak heran bila Susan memilih gaya personifikasi dalam karyanya. Kata pengantarnya di katalog mengandaikan keberadaan sebuah dunia maya yang disebutnya Infranesia. Sebuah ruang tanpa batas, di mana segala sesuatu menjadi mungkin. "All the magic of their world is that they can desire contradictions, opposites without restriction."

   Lewat foto-foto hitam putihnya yang dibuat tak hanya di Indonesia, ia mengajak bertualang ke dunia Infranesia-nya. Dunia dalam segmen foto yang bebas diberi makna sendiri. Susan tidak membatasi imaji pemirsa, ia hanya memberi judul pada foto-fotonya, yang dalam katalog ditata apik secara grafis, dan pengantar sebagai pembimbing yang membuat pemirsa lebih bebas bertualang.

   Fotonya berjudul Sunny Night (4) yang menggambarkan refleksi sinar matahari di jalanan basah menggambarkan siluet orang dengan sepeda di ujung jalanan, merangsang imaji untuk meluaskan horison ke arah ruang antah berantah, yang menjanjikan petualangan menarik di suatu malam saat terang bulan. Atau, Road to Paradise, foto puncak tanjakan jalan raya yang ujungnya tak terlihat sehingga membuat orang tergelitik rasa penasaran: apa yang ada di balik tanjakan itu? Imajinasi yang ditimbulkan foto bisa menyenangkan atau menakutkan.
   Manhunt (3), foto dengan siluet burung di sudut kanan yang terancam (siluet) alat pemotong kawat, adalah gambaran ancaman teknologi pada alam.

Esensi
   Dalam menggarap foto-fotonya, Susan tidak pernah berusaha menangkap realitas kehidupan. Ia melihat sesuatu bukan sebagaimana adanya, tapi sebagai sesuatu yang dapat dimetamorfosiskan. Ia pun tidak memperhitungkan segi estetika, tapi menangkap esensi. Sebagai wanita muda dalam pengalaman dan usia, ia berusaha mengungkapkan perasaan, mimpi dan pengalaman batinnya lewat gambar yang penuh tenaga. Namun demikian, kebanyakan foto tersebut hanya berhasil mengusik angan-angan
akan sesuatu yang sering kita khayalkan. Susan belum mampu menggiring pada perenungan yang mengarah pada pemahaman nilai-nilai baru. Fotonya berjudul 1, 2, 3; yang mungkin bermaksud menggambarkan hubungan manusia dan Khaliknya, terasa hanya menyentuh permukaan. Bandingkan
dengan foto Agus Leonardus berjudul Remember Him. Foto ini memperlihatkan bidang gelap terpotong secara diagonal oleh seberkas cahaya yang melebar di bawah. Di bagian bawah berkas cahaya terdapat
siluet salib. Foto ini terasa lebih kuat dan menggiring pemirsanya pada perenungan.

   Agus Leonardus, rekan berpameran Susan, asal Yogya, punya latar belakang pendidikan di fakultas ekonomi. Pada 1978 ia mulai belajar fotografi lewat Salon Foto Indonesia. Sebagian besar foto-fotonya
bergaya salon dengan obyek human interest. Menurut Agus, foto tersebut dibuat dengan dasar pamrih (pujian, menang lomba, jualan atau lainnya).

   Dalam pameran kali ini, Agus menyajikan foto yang sangat berbeda. Ia mengeksploitir detail benda-benda yang ada di sekelilingnya dan mentransformasikannya ke sesuatu yang lain. Bila Susan lewat fotonya menangkap esensi kejadian atau benda agar termetamorfosa menjadi nilai-nilai baru, penekanan Agus sangat berbeda. "Impuls saya paling tergerak bila melihat warna. Mungkin itu sebabnya kenapa foto hitam putih kurang memuaskan bagi saya," katanya. Memang terlihat Agus sangat mengandalkan penekanan pada warna dan pola, termasuk warna pigura. Tak heran bila foto-foto tersebut terasa sangat dekoratif.

   Dari sekian banyak unsur estetika (warna, tekstur, gradasi, grafis dan lain sebagainya), warna memang unsur yang paling mudah merangsang mata. Tetapi, sensasi warna saja tidak cukup kekuatannya untuk
merangsang imajinasi pemirsa agar memberikan nilai-nilai baru pada sebuah karya. Para penganut mazhab komposisi ini (disebut juga "Westonian", dari nama fotografer yang mengembangkan aliran ini,
Edward Weston) berkarya dengan melakukan isolasi atau menyederhanakan obyek lewat kemampuan kamera (fokus, ruang tajam, framing, jenis film dan sebagainya). Penyederhanaan ini bertujuan agar obyek yang difoto tertransformasi menjadi sesuatu yang baru. Bentuk aslinya tidak dapat dikenali lagi, sementara maknanya mengikuti khayalan si pemirsa.

   Dalam kebanyakan karya Agus di sini, isolasi tersebut tidak bisa dibilang berhasil. Dengan mudah asal-muasal foto dapat ditebak: jangkar, dinding rumah, layar, gelas dan tembok dan seterusnya. Sementara itu, pola dan warna yang menjadi andalan kekuatan foto terasa kurang bertenaga. Dari sekian banyak foto yang dipamerkan, hanya beberapa yang bisa dibilang berbeda. Misalnya foto sepotong jangkar (1). Dari sudut transformasi foto ini cukup berhasil. Sayangnya sangat verbal mengarah pada bentuk palus. Foto berjudul Loneliness (2) walaupun secara transformasi gagal, masih mempunyai tenaga. Dinding retak-retak membawa imajinasi pemirsa pada kengerian perang saudara di Haiti atau aparteid di Afrika Selatan.

   Namun secara umum foto-foto Agus cukup enak dipandang, karena sifatnya dekoratif. Barangkali agak berlebihan bila mengharapkan bobot dari foto-foto demikian. Yang justru mengganggu adalah judulnya yang terlalu dipaksakan sehingga terasa berlebihan dan tidak menjadi pembimbing bagi pemirsa. Sebaliknya, judul itu malah menjadi antiklimaks bagi imajinasi. Foto Chinese New Year, misalnya. Warna
merah yang ditampilkan enak dilihat, sayang judulnya mematahkan imajinasi. Foto Nude, biarpun tak jelas mengarahkan ke mana, transformasinya bisa dibilang berhasil. Lagi-lagi judulnya mementahkan
kekuatan foto. Barang kali benar juga apa yang dikatakan Agus bahwa ia tidak suka dengan judul karena bisa jadi pembatas.

   Terlepas dari segala macam kekurangan yang ada, secara keseluruhan pameran foto ini tetap menarik disimak. ***
 (Nina Y Masjhur, anggota Klik, kelompok fotografi jalanan)


Artikel di KOMPAS Minggu, 20-07-1997

Mie Ayam



Mi ayam, atau yang lebih kerap ditulis sebagai mie ayam, adalah makanan yang sangat digemari para manusia. Jenis makanan itu dapat diperoleh di mana-mana. Baik di restoran yang berpendingin, maupun di pinggir jalan nan panas berdebu. Yang terakhir biasanya dijajakan oleh penjualnya dengan gerobak yang bentuknya sangat khas. Sedemikian khas-nya, kalau seseorang manusia meligat gerobak macam itu, dia segera tahu bahwa itu adalah penjual mie ayam. Sebaliknya, kalau ia ingin makan mie ayam, maka ia akan mencari gerobak berbentuk khusus tersebut.

Standarnya mie ayam ini terdiri dari sekepal mie telur berkuah yang diberi sejumlah bahan. Mie tersebut sebelumnya selama beberapa menit direndam dalam air mendidih yang berada di atas kompor bersama daun sawi. Lalu, diletakan di sebuah mangkuk. Disusul dengan potongan daun bawang, cacahan daging ayam yang sudah diolah, tongcai, garam, merica, dan, terkadang bumbu penyedap yang ditengarai tak sehat itu. Lalu, kuah kaldu ayam pun disiramkan. Lain metode, kuah tak disiramkan pada mie dan kawan-kawannya itu. Melainkan, di taruh terpisah pada sebuah mangkok yang lebih kecil. Yang suka pedas boleh pakai sambal, atau saus yang kadang dianggap saus tomat atau saus sambal, tapi sebenarnya entah apa bahannya. Mungkin bahannya cabai juga. Atau, entah apa...

Dimakannya bisa begitu saja, dan kadang disebut polos. Kalau yang tak polos biasanya ditambahi baso daging atau pangsit. Atau, dua-duanya sekaligus. Terserah daya muat perut si pemesan.

Ada juga yang mie-nya diaduk dulu dengan kecap sebelum diberi bahan-bahan lainnya. Bisa yang asin atau manis, tergantung selera si manusia lah. Disebut yamin, tapi ada juga yang menyebutnya yami (eh, ataukan yamin dan yami ini punya arti yang berbeda ya?).

Seperti yang disebutkan di atas, mie-nya direndam dalam air mendidih yang berada di atas kompor. Itu artinya direbus, kan? Ya, betul. Tapi, kalau para manusia menyebut 'mie rebus', jenis masakannya lain lagi. Mie-nya sama-sama mie telur tapi bentuknya sedikit berbeda. Bahan-bahan pelengkapnya pun kebanyakannya tak sama. 'Lawan' dari mie rebus ini adalah mie goreng. Oya, ada satu lagi jenis mie berkuah lho! Namanya, mie masak. Dulu Nina sempat sangat menggemarinya. Mirip mie rebus tapi bahan-bahan lainnya bisa disebut segala ada. Baso daging dan baso ikan, cacahan daging dan hati ayam, udang, berbagai jenis sayuran, jamur.

Kembali ke mie ayam, makanan yang satu ini bisa menjadi makan kegemaran, tapi, nah ini hebatnya nih, juga bisa jadi makanan penyelamat dan survival food. Coba deh perhatikan. Kalau ada seseorang manusia yang lapar, kecenderungannya ia akan mencari mie ayam. Atau, kalau buntu dalam mencari ide hendak makan apa siang ini, sering ucapan tersebut di bawah ini yang keluar.

Mie ayam aja deh...

Sebuah jawaban yang membuat manusia yang mengucapkannya lalu menjadi terlepas dari beban maha berat untuk memikirkan menu apa untuk makan siangnya. Soal gizi? Hehehe..., terserah! Tapi, lumayan tuh ada ptotein nabati dan protein hewaninya.

Bahwa mie ayam itu adalah survival food, bisa diketahui dari dialog di bawah ini.

Hei, udah makan? tanya si A.

Sudah, makan mie ayam tadi. Laper banget sih, adanya mie ayam, ya udah makan itu aja deh, jawab B.

Jelas kan bahwa mie ayam itu survival food!? Kalau tidak makan mie ayam, si B itu pasti sudah mati kelaparan sebelum sempat ditanya oleh si A.

Mie ayam juga sering disebut sebagai bakmie ayam. Sebuah sebutan salah kaprah karena bak itu berarti babi—dari salah satu bahasa kelompok masyarakat Cina dari mana budaya mie itu berasal. Nina mengetahuinya secara kebetulan. Pada sekian dekade lalu, tepatnya 1987, di Pulau Seram, Maluku.

Waktu itu, setelah hidup di hutan selama tiga bulan, akhirnya Nina dan teman-teman satu ekspedisi kembali ke kota. Kota kecil saja yang bernama Wahai, yang pada masa itu merupakan sebuah kota kecamatan. Setelah sekian lama hidup dengan makanan kalengan, biskuit, oatmeal, coklat batangan, kiju, dan lainnya; kini terbuka kesempatan untuk makan makanan 'betulan'. Tersiar kabar bahwa ada sebuah tempat di mana manusia bisa makan bakmie. Bukan restoran atau warung, tapi di sebuah keluarga Cina setempat yang punya toko yang sama sekali bukan toko makanan. Ke sanalah Nina dan teman-teman berbondong-bondong datang.

Selamat malam, kami mau makan bakmie, sapa mereka pada yang punya rumah.

Silahkan masuk! kata bapak kepala keluarga di rumah itu.

Nina cs. dipersilahkan duduk di ruang tamu rumah keuarga itu, meriung di satu set sofa sederhana. Kan bukan restoran, jadi seadanya duduknya.

Tak lama, dari ruangan tengah terdengar pembicaraan dalam salah satu dialek bahasa Cina antara si bapak dengan istrinya. Tak makan waktu lama, si bapak keluar dan mengajak kami bicara.

Maaf, kami tidak punya daging babi. Kami hanya ada dendeng rusa, jelas si bapak.

Sebagai catatan, di pulau itu pada waktu itu, daging yang tersedia adalah daging rusa yang sudah didendeng supaya awet. Jenis daging lain sedikit lebih sulit untuk diperoleh.

Lho, kami ini nggak makan babi, pak, kami muslim, jelas salah satu teman Nina.

Begitu ya? Habis tadi mintanya bakmie," terang si Bapak. Lanjutnya, ‘’’Bak itu kan artinya babi.

Nina dan teman-temannya bengong. Lho lho lho lhooooo... Baru pada tahu ya... Padahal, ayahnya si Nina juga sudah tahu tuh. Nina saja yang tak pernah tanya-tanya ke ayahnya sendiri.

Nina itu termasuk penggemar mie ayam juga, ngomong-ngomong. Namun, menjadi vegan membuatnya berhenti menyantap makanan khas tersebut. Untungnya, ia lalu menemukan sebuah rumah makan vegetarian yang juga menjual mie ayam. Mie ayam vegetarian/vegan tentunya. Kuahnya bukan kaldu daging, cacahan ayamnya diganti unsur non hewani, dan, mie-nya bukan mie telur atau yang mengandung telur. Oya, ada pangsitnya juga lho! Patutlah Nina jadi girang banget.

Aku pernah bertanya ke Nina, dari semua mie ayam yang pernah dirasakannya, yang mana kiranya yang paling enak menurutnya.

Jangan tanya yang paling enak deh, Moy, sebab banyak tuh yang enak tapi beda-beda rasa enaknya. Meskipun demikian, aku bisa cerita soal mie ayam paling epic yang pernah kusantap, tegasnya.

Di manakah itu? Di Bandung, yang nama tempat dan jalannya pun sudah tak diingatnya lagi. Kejadiannya berlangsung beberapa tahun lalu. Sekitar tahun 2009 kalau tak salah—aku belum terbit tuh dalam kehidupannya Nina.

Waktu itu, di suatu malam minggu, Nina sedang nongkrong-nongkrong di galeri Antara di Pasar Baru itu. Barang Nina banyak, jadi oom Danny yang kerja di situ menawarkan untuk mengantarkan Nina pulang dengan mobilnya. Masuklah semua barang Nina ke bagasi mobilnya oom Danny. Tapi lalu tiba-tiba, oom Danny bilang begini...

“Ke Bandung yuk, mak,” kata oom Danny. “Temenin gue, lagi pengen makan mie ayam yang di Bandung nih,” sambungnya—‘mak’ adalah panggilan Nina di komunitas di situ.

Ya sudah, Nina sih ayo saja. Nina tahu bahwa di Bandung ada beberapa tempat di mana orang biasa makan mie ayam yang enak, jadi, kemungkinan itu salah satunya. Jam sembilan malam mereka pun meninggalkan galeri yang di Pasar Baru itu. Rencananya, pagi besok sehabis sarapan mie ayam yang diidamkan, langsung kembali ke Jakarta. Di mana menginap? Ah, bukan hal penting. Dan, sesampainya kembali di Jakarta nanti, si oom akan langsung mengantar Nina pulang.

Pergi ke Bandung lewat tol Cipularang. Lancar saja dan tak ada macet. Sampai di Bandung sekitar pukul sebelas. Makan malam sambil nongkrong di semacam mol di jalan Dago yang buka 24 jam. Jam satu malam sudah bosan, jadi mereka berdua lalu putar-putar kota Bandung.  Sampai oom Danny ngantuk, dan mobil di parkir di dekat sebuah taman. Sementara oom Danny tidur di mobil, Nina yang imsonia keluyuran di taman itu. Melihat kesibukan para loper koran yang sedang mengambil jatah koran paginya. Mengobrol dengan kucing-kucing liar yang bersedia nanggep Nina.

Jam tujuh pagi, dua manusia itu pun sampai di sebuah restoran masakan Cina dan memesan mie ayam. Mie ayamnya rasanya sih biasa-biasa saja kecuali bahwa sayurannya bukan sawi, melainkan daun selada. Yang berubah hitam ketika terkena air panas hehe...

Makan makan makaaaaan..., lalu dua manusia itu buru-buru kembali ke Jakarta. Oom Danny harus sampai di galeri sebelum jam sepuluh pagi. Akibat waktu yang mepet, tak ada tempo buat mengantar Nina terlebih dahulu. Maka, mereka langsung kembali ke galeri. Nina diantar pulang baru kemudian.

Berangkat dari galeri semalam pada pukul sembilan, tiba kembali jam sembilan pagi. Pas dua belas jam perjalanan epic demi semangkuk mie ayam itu. Tapi, sesungguhnya, yang paling epic dari semua itu adalah apa yang beberapa hari kemudian oom Danny ungkapkan ke Nina. Yang berbunyi kira-kira begini.

“Mak, kita kan salah tempat makan mie ayam di Bandung itu. Bukan yang itu benerannya, gue lupa sih tempatnya blahblahblah...”

Ya Nina bengong aja hahahaha....   =^.^=



PAMERAN BINGKAI FOTO ALTERNATIF



Ini tulisan lama Nina, sebuah kritik fotografi. Pernah dimuat di harian KOMPAS Minggu, 10-08-1997, halaman 24. Tulisan di bawah adalah versi editan Kompas. Versi asli sudah tidak jelas ke mana....


=^.^=

   PAMERAN foto berjudul Kota Kita III: Jakarta Bermain (JB) digelar dari 29 Juli - 24 Agustus 1997 di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GJFA). Bila Anda mengharapkan pameran foto yang konvensional, jangandatang. Anda tidak akan menemukan foto berbingkai apik seperti yang Anda bayangkan. Di sana, Anda juga harus hati-hati melangkah, jangan sampai menginjak onggokan tanah berbentuk kuburan di tengah galeri.

   Ada lima fotografer muda yang mengikuti pameran. Ray Bachtiar, sang pembimbing, mengungkapkan, bimbingan yang ia berikan selama hampir setahun bermaksud membentuk bimbingannya agar mampu menjadikan foto media ekspresi. "Bagus atau tidak bagus, urusan mereka. Tugas saya hanya membuka pemikiran mereka untuk kemungkinan lain," katanya. Pameran foto yang sangat tidak biasa merupakan salah satu dari yang disebutnya sebagai kemungkinan lain.

   Dalam mempersiapkan pameran biasanya fotografer akan memilih foto terbaiknya, lalu memikirkan bingkai yang sesuai guna menunjang kekuatan foto. Penataan di ruang pameran dilakukan agar kenyamanan pemirsa melihat foto dapat membantu memahami makna. Cara ini memangkonvensional sehingga sangat wajar apabila pemirsa JB bertanya-tanya, apakah pameran ini masih bisa disebut pameran foto?

Hanya elemen
   JB menampilkan foto secara tiga dimensi. Banyak elemen selain foto yang terlibat. Semisal tanah, pecahan genting, pelek sepeda, rumput, miniatur rumah dan sebagainya. Orang bisa saja mengatakan ini adalah pameran foto, toh materi utama pameran ini foto. Tapi, apakah masalahnya sesederhana itu? Mari kembali ke ruang pameran GFJA.

   Satu-satunya yang tak repot dengan berbagai elemen adalah Mila Fadliana dengan Simbol Ke(a)ku-asaan-nya. Tetapi ia masih jauh dari berhasil dalam menyampaikan pesannya. Satu fotonya yang menyambut kedatangan pemirsa, sempat membuat pemirsa menyangka ia tiba di pameran real estat, gara-gara foto itu terpasang di miniatur rumah.

   Kuburan yang tadi sudah disebut adalah bingkai karya Achmad Fauzie yang resah dengan matinya permainan tradisional. Kuburan Permainan Anak adalah judulnya. Fauzie sangat berhasil mencuri perhatian orang, dan pesannya tersampaikan. Hanya saja kekuatan yang tampil bukan berasal dari foto, melainkan karena kekuatan hiperbola bingkainya.

   Awaluddin, punya keresahan dengan semakin sempitnya lahan tempat si buyung bermain. Karyanya berjudul Lahan Semakin Sempit hadir dengan teknik kolase. Teknik ini tidak baru, sudah dilakukan sejak tahun 1920-an dalam penyampaian gagasan. Sebuah karya fotografi selalu diasosiasikan orang sebagai rekaman atas realitas. Karena itu orang sangat terhenyak ketika melihat cuplikan karya Awaluddin di brosur: dua orang anak bermain bola di atas bus kota yang terperangkap kemacetan. Tetapi ternyata aslinya adalah kolase, sehingga terjadilah antiklimaks.

   Di sudut lain ruangan, dua pelek sepeda tersusun di sebuah rangka sepeda membingkai foto Eny Erawati. Menurut Eny, masih ada lahan bermain di Jakarta. Cuma saja bila mau main harus beli es krim dulu di McDonald. Jika diamati satu per satu, karya Eny masih kurang bertenaga. Tapi, ... Dolan Yuk!!!-nya yang ditunjang bingkai tak lazim, sukses melibatkan pemirsa untuk berinteraksi dengan karyanya.Lagi-lagi terlihat yang berhasil mencuri perhatian bukanlah fotonya.

   Salma dengan Kebimbingan mencoba memaparkan keresahan sekelompok kaum muda akan bubarnya kelompok musik kesayangan mereka, Slank. Ia tak terlalu heboh dengan berbagai elemen, namun ia juga sibuk dengan bingkai hiperbola. Ia membingkai foto-fotonya dengan foto-foto juga, sehingga tampil cukup menarik. Tetapi Salma masih kurang dalam mengeksplorasi materi fotonya. Bermainnya Slank dalam pencarian harmoni yang sifatnya alternatif bagi para penggemarnya, tidak terekam dengan baik.

   Tampilan karya kelima fotografer tadi mengingatkan orang pada karya seni yang disebut instalasi, ketika benda apa pun absah dipakai dalam mengekspresikan diri, termasuk foto. Ray menampik pendapat itu, "Terlalu jauh bila kita menariknya sampai ke sana. Pameran ini hanya mau menampilkan kemungkinan lain dalam berpameran, supaya perhatian orang tercuri."

   Sayang foto-foto yang semestinya punya kekuatan terpaksa dikorbankan. Dengan kata lain, keberhasilan pameran ini bukan karena foto-fotonya, tetapi kemegahan bingkainya.

   Foto adalah media ekspresi. Sebagai medium, ia mempunyai kekuatannya sendiri. Bila sebuah foto berhasil menggugah pemirsa dan menggiringnya pada perenungan, pesan yang ingin disampaikan tercapai. Sementara di JB penyampaian pesan tercapai atas bantuan penyajian. Foto-foto yang mempunyai kekuatan di sini, terkubur bingkainya sendiri karena ia diperlakukan sebagai elemen.

Sederhana, indah
   Mari bandingkan foto-foto anak didik Ray dengan foto-foto dokumentasi yang dipamerkan Mitra Masyarakat Kota (MMK), lembaga swadaya masyarakat di Jakarta. Pameran ini menyertai JB danberlangsung di lantai atas GFJA. MMK ingin menyampaikan pesan tentang masalah di Jakarta lewat pendekatan dokumentasi. Foto-foto mereka tampil sangat sederhana, tanpa tendensi ke arah seni. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Foto sebagai media ekspresi bersifat universal dan mudah dipahami. Bila disertai dengan keterangan yang pas, ia bisa menjadi komunikator langsung tentang inti permasalahan. Kekuatan inilah yang tidak dieksploitasi dengan baik peserta JB.

   JB akan berlangsung selama hampir sebulan. Ray mengharap, selama itu akan lahir polemik yang dapat menjadi proses berkelanjutan bagi workshop ini. Kritik dan saran diharapkan dapat membantu merekamematangkan diri dalam dunia yang mulai mereka geluti. Tak tertutup kemungkinan mereka akan memperbaiki karya-karyanya.

   Satu lagi pelajaran berharga yang barangkali perlu diperhati-kan, bagaimana menangkap inti sebuah peristiwa, meresapkannya, kemudian mengaplikasikannya. Karya mereka ini mengingatkan pada pameran Bauhaus yang pernah diadakan di tempat yang sama beberapa waktu lalu. Walaupunpameran ini mengetengahkan berbagai kemungkinan dalam mempresentasikan sebuah karya, inti paham Bauhaus sebenarnya adalah mengeksploitir kekuatan paling hakiki sebuah materi mulai dari nol!

   Dalam bukunya, From Bauhaus to Our House (1981), Tom Wolfe memaparkan cerita menarik. Suatu hari, Josef Albers, seorang pelukis, menugaskan murid-muridnya berkarya dengan koran bekas. Terciptalah berbagai karya. Albers mengambil karya njelimet, katedral, dan mengatakan katedral seharusnya terbuat dari batu atau logam. Bukan kertas koran. Lalu ia meraih karya lain, lipatan selembar koran yang membentuk tenda. Katanya, karya ini dibuat dengan mengeksploitir ruh dari kertas. Kertas bisa dilipat tanpa patah, mempunyai kekuatan direntangkan dan bidang yang luas cukup ditunjang hanya oleh dua sisi lipatan. .... This is a work of art in a paper.  Begitu sederhana.Begitu indah. *** 
(Nina Y Masjhur, anggota kelompok fotografi jalanan Klik)

 Penampakan artikelnya di KOMPAS Minggu