Showing posts with label daily_life. Show all posts
Showing posts with label daily_life. Show all posts

Friday, August 8, 2014

Linglung -bagian satu-



Hari Kamis yang baru lalu, seorang kakek tergopoh-gopoh menghentikan angkot. Beliau rapih berpeci hitam, pakai baju koko, dan bersarung. Sandalnya sandal kulit. Saking tergopoh-gopohnya, hampir saja beliau menabrak Nina yang hendak naik ke angkot yang sama. Jam saat itu menunjukkan sudah liwat dari pukul duabelas siang.

Angkot pun melaju, tapi baru beberapa puluh meter mendadak berhenti lagi. Padahal, tak ada calon penumpang yang hendak naik. Oh, ternyata kakek tadi yang bergegas turun sambil menggumamkan sesuatu.

"Ah, dasar kakek-kakek, pikun dia! Dikiranya ini hari Jumat, sampai terburu-buru begitu sebab dikiranya sudah terlambat untuk Jumatan!" si supir berceloteh.

Aaaah, begitu tokh! Hahahaha, tapi si supir itu tidak tahu kalau Nina yang mungkin belum setua kakek tadi itu bisa sama pikunnya.

Tiap Rabu pagi Nina kan mengajar untuk anak-anak marjinal di sebuah tempat. Jadwalnya pagi jam 9. Satu malam Nina harus menyelesaikan sebuah pekerjaan terlebih dahulu sehingga baru bisa tidur saat pagi menjelang. Kurang tidur dan lain-lain, paginya dengan susah payah Nina bangkit dari tempat tidur. Berangkat dengan sedikit gontai, rasanya capek banget. Mungkin mukanya sedikit pucat. Karena itu, sesampainya di lokasi mengajar, ketika rekan yang mengurus administrasi terbengong-bengong melihatnya, Nina pikir pasti karena mukanya yang mungkin terlihat rada-rada pucat itu.

"Komputernya sudah siap?” tanya Nina.

Hari Rabu itu rencananya murid-murid hendak disuruh mengetik di komputer.

"Lho, memangnya Kak Nina ngajar hari ini?" rekan yang terbengong-bengong tadi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

"Lha, iya kan. Rabu, kan," Nina menjawab dengan heran.

"Kak, ini hari Selasa, kaaaak!!!"

Hahahaha, Nina langsung balik badan sambil ketawa-ketawa sendiri. “Sampai besok ya!” kata Nina tanpa menegok lagi.

Kampred, maki Nina dalam hati. Padahal sudah bangun dengan susah payah begitu. Ternyata baru hari Selasa, bukan Rabu.

Dasar tidak teliti! Dan karena tidak ketidaktelitiannya itu, di tempat dia mengajar itu saja berkali-kali sudah Nina ketinggalan berbagai barang yang, mungkin saja, penting.

Pertama, telepon genggam. Bagi Nina, piranti ini bukan hanya untuk menelepon atau mengirimkan berita-berita singkat. Tapi juga berfungsi untuknya menulis. Tiap ada kesempatan, pada saat situasinya memungkinkan, Nina akan mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai menulis di sana.

Pada suatu Rabu, pulang mengajar seperti biasa, Nina jalan kaki ke stasiun. Seperti biasa juga, dia mampir di warteg untuk makan siang. Sambil makan rencananya mau melanjutkan tulisan yang sudah dimulai di telepon genggamnya itu. Tapi, astaga!, ternyata barang itu tidak ada di ransel! Sehabis makan yang tidak nyaman sebab cemas dengan keberadaan pirantinya itu, Nina kembali ke tempat mengajar. Berharap cemas bahwa memang di situlah telepon genggammnya tertinggal.

Selain telepon genggam, Nina pernah juga ketinggalan botol air minumnya di situ. Sampai dua kali tuh! Satu kali sempat diambil kembali karena masih berada di sekitaran. Terakhir kali disadari saat sudah terlalu jauh. Jadi baru bisa diambil minggu depannya ketika datang untuk mengajar lagi. Yang pasti, di kedua waktu itu, Nina menyadari bahwa botol minumnya tidak ada adalah ketika ia hendak minum dan tak menemukan botolnya di tempat yang seharusnya.

Botol air minum tersebut merupakan produk dari sebuah merek terkenal yang konon memberikan garansi seumur hidup. Dibeli Nina sebagai pengganti botol sejenis yang adalah pemberian dari seorang kakak sepupunya, gara-gara botol pemberian tersebut juga tertinggal di suatu tempat. Kehilangannya yang baru disadari ketika hendak minum juga. Botol pemberian tersebut sesungguhnya sih ditemukan oleh seorang temannya Nina. Dijanjikannya akan dikirim dengan paket. Tapi, mungkin itu hanya janji yang mudah diucap oleh mulut belaka. Makanya akhirnya beli saja yang sama sebagai pengganti.

Ah, baiklah! Mari kita lanjut!

Lupa dan linglung itu sebenarnya sama nggak sih ya? Mungkin rada sedikit berbeda. Soal botol dan telepon genggam pastinya itu soal lupa. Sementara salah hari kemungkinannya linglung. Yang di bawah ini pun pasti linglung juga hitungannya.

Waktu masih ada pekerjaan di daerah Karet Tengsin, moda transpotasi Nina adalah commuter line dengan rute Bogor-Tanah Abang dan sebaliknya. Yang kalau jam pulang bukan main padatnya! Itu sebab, Nina selalu mencoba sekuat tenaga bertahan untuk tidak terseret masuk terlalu jauh dari pintu. Sebab, untuk menempuh jarak semeter menuju pintu kereta saja susahnya setengah mati.

Suatu hari, dalam sebuah perjalanan pulang, begitu pintu kereta terbuka dan Nina siap melompat turun, segera disadarinya bahwa ia seharusnya turun di stasiun berikut. Bukan di sini. Sempat terpikir untuk mengurungkan langkah turunnya, tapi sudah tak mungkin. Sebab, dia berada di paling depan, dan desakan orang-orang yang hendak turun sudah mulai mendorongnya.

Terpaksa turun deh mengikuti arus, dan lalu menunggu kereta berikut.

Satu lagi, masih berurusan dengan kereta nih! Kalau pulang dari galeri yang di Pasar Baru itu kan Nina cenderung menggunakan kereta terakhir dari stasiun Juanda yang jadwalnya pk. 23.36. Keretanya rute Jakarta Kota-Bogor. Apabila kereta termaksud ternyata masih dalam perjalanan menuju ke Jakarta Kota dari Bogor, dan belum pun meliwati stasiun Juanda, maka Nina bermaksud menunggunya di jalur satu—jalur yang ke arah Jakarta Kota. Ikut jalan-jalan dulu ke sana bersama si kereta tujuan Bogor.

Kebiasaannya Nina adalah, sambil meliwati tapping gate, dia akan bertanya pada pak satpam di manakah kiranya posisi kereta berada.

"Paaak, keretanya sudah sampai di ma---".

Heg!!! Perut Nina menabrak besi palang dengan keras. Lumayan tuh rasa hantamannya di perut.

Rupanya, entah bagaimana, ia lupa menyentuhkan tiket plastiknya di tapping gate. Ya tentu saja palang di gate tidak mau bergerak.

Gimana sih, katanya commuter sejati. Menempelkan tiket masuk saja bisa lupa. Hahahaha...  §

Sunday, July 13, 2014

Akses Diblokir!



Waktu masih ada pekerjaan di sebuah kantor di daerah Karet Tengsin, Jakarta Pusat, nyaris setiap hari Nina ngantor ke sana. Pergi-pulang ditempuh dengan menumpak CL—commuter line, yang dahulu dikenal sebagai KRL atau kereta rel listrik; pada jam-jam kantor sehingga setiap perjalanan bagaikan sebuah perjuangan.

“Yaaa, kalimat itu memang kalimat klise, tapi demikianlah keadaan yang sesungguhnya,“ Nina beralasan.

Meski sebetulnya, dia hanya berpikiran seperti itu kalau mood-nya sedang negatif. Apabila sedang dalam kondisi positif, biasanya sih dia akan menyebutnya sebagai sebuah petualangan.

CL rute Tanah Abang dari Bogor/Depok adalah yang menjadi kendaraan hariannya. Berhubung jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan rute Jakarta Kota, maka, padatnya dijamin luar biasa pada waktu-waktu yang disebut sebagai jam-jam kantor. Pagi hari sampai dengan jam 9 pagi sering  masih sesak. Jam 10 situasinya mungkin sudah agak lumayan meskipun masih belum dalam kategori bisa buka tenda di dalam gerbong.

Sebagai catatan lumayan penting diketahui—barangkali—Nina selalu naik di gerbong khusus wanita. Kan dia wanita...  Di setiap rangkaian CL, gerbong khusus tersebut ada dua. Yang paling depan dan yang paling belakang. Untuk rute ke Tanah Abang ini rangkaian hanya terdiri dari delapan gerbong, maka berarti yang paling belakang adalah gerbong nomor delapan—ini adalah sebagai catatan biasa saja, sebab sebenarnya tak ada kepentingannya disebutkan di sini.

Seringkali di stasiun asal Nina, Pasar Minggu Baru, ramai calon penumpangnya. Menjadi persoalan juga sebab lalu harus berebut untuk bisa masuk ke dalam gerbong yang sudah padat. Tak jarang rekan seperjalanan yang berada di depan Nina, begitu sudah naik, terkesan seperti memblokir akses dengan tangannya. Seolah mencegah supaya yang berada di belakangnya tak bisa menyusul masuk. Demikian pandangan negatif Nina, tapi mungkin maksudnya sih berpegangan supaya tak terdorong keluar lagi. Yang pasti, kadang membuat Nina terjepit bila penumpang di belakangnya tak mau kalah dan terus merangsek masuk. Tapi tak perlu waktu lama bagi Nina sampai akhirnya dia berhasil mengadopsi gaya mendorong masuk seperti yang sering dilakukan calon penumpang di belakangnya. Melawan tanpa gentar posisi bertahan si penumpang di depan sampai orang itu terdorong masuk. Dipahaminya juga dengan segera bahwa ransel yang menggelembung yang selalu dicangklongkan di bagian depan badan ternyata dapat menjadi alat bantu mendorong yang berguna.

Tapi ada juga masalah lain yang harus dihadapi Nina. Bila akhirnya ia berhasil masuk ke dalam sesaknya gerbong, tak jarang ia merasa bahwa penumpang lain di depannya yang adalah sesama perempuan, seolah sengaja menahan laju masuknya. Tentu Nina paham bahwa kereta sudah penuh sesak, tapi kalau ada peremuan lain yang masuk, bisa saja tuh. Dengan penuh pengertian mereka mau saja bergerak sebisanya demi meluangkan tempat. Kenapa sih..., gumam Nina dalam hati dengan jengkel.

Dalam berbagai kesempatan yang bagus, Nina menjadi satu-satunya penumpang yang naik. Berarti, perjuangan menjadi separo lebih enteng, tapi bukan berarti tak berat. Sebab, lebih sering terasa ada penolakan, dan, ini yang paling bikin Nina gedeg, dia kerap mendapat pelototan dari banyak mata mbak-mbak, ibu-ibu, tante-tante, nenek-nenek di dalam gerbong.  Pernah pula sampai ada penumpang yang mendecak jengkel gara-gara Nina tak menyerah dan terus merangsek masuk. Tiap kali mengingat orang berdecak demikian, ditambah dengan betapa tak enaknya berada di bawah sorotan sekian belas pasang mata yang melotot penuh rasa tak suka; mangkel rasanya hatinya.

“Sebegitu berdosanya kah aku yang berusaha untuk turut terangkut kereta? Hmmm..., sebal!”  Demikian jeritan hati Nina—lebay sedikit bolehlah.

Barangkali memang Nina itu berotak lamban, karena, cukup memakan waktu baginya untuk menyadari di mana letak permasalahnnya. Tentu saja dia tak mau donk dianggap salah, jadi dia menganggap mereka, para perempuan di dalam gerbong khusus wanita tersebut, adalah orang-orang yang hanya mampu menilai orang dari luarnya saja. Ya kan? Dan, tambah Nina lagi, sangat diskriminatif.

Kenapa Nina berkesimpulan sedemikian rupa? Sebab, akhirnya Nina memahami bahwa unsur rambut plontosnya, dan karena dada yang selalu tertutup ransel sehingga tidak memperlihatkan ciri khas fisik perempuan yang paling mudah terlihat; membuatnya langsung disimpulkan sebagai lelaki. Arti dari semua kejadian yang dialaminya itu, di mana ia seperti dicegah masuk adalah karena rupanya dia dianggap sebagai salah kamar, eh, salah gerbong.

Bermodalkan pemahaman baru itu, Nina mulai mengatur strategi. Di hari pertama strategi tersebut hendak dipentaskan, gerbong khusus wanita yang ditujunya tidak terlalu pol sesaknya tapi lagi-lagi akses masuknya cukup dipersulit. Halangan yang segera dihadapinya adalah dari seorang ibu setengah baya yang cara berpakaiannya mengingatkan Nina akan almarhumah ibunya di saat beliau hendak pergi mengajar. Rapih, keibuan, keguruan—mungin yang terakhir ini ngarang belaka. Di belakangnya, penumpang lain jelas memasang tampang tidak suka. Maka, strategi pun Nina luncurkan. Dengan suara keras ia melantangkan pengumuman.

“Oi, saya naik gerbong ini karena saya perempuan loh, saya bukan laki-laki loh... Oi, perempuan loh saya... Bukan lelaki loh saya”.

Si ibu tadi yang semula memandang Nina dengan wajah galak, mendadak tersenyum kecut sambil ber”hehe...” tanpa rasa bersalah. Terbersit dalam pikiran Nina bahwa pasti si ibu itu menganggap dirinya senior secara umur dibandingkan Nina. Sehingga, dia tak merasa perlu minta maaf atas ketaksopanannya. Padahal, kalo soal umur mungkin dia dan Nina tidak berbeda jauh. Nina saja yang tampaknya lebih irit sedikit.

Tapi yang paling hebat adalah, tiba-tiba terdapat ruang yang cukup bagi Nina untuk bergerak dengan leluasa dan mengalir lancar menuju bagian dalam gerbong. Seperti ada celah memanjang yang terbuka, membuatnya merasa bagaikan Nabi Musa yang tengah membelah lautan... §


 Gerbong khusus wanita CL yang padat

Monday, April 21, 2014

Bando-bando Cantik Ibu Jeminem



Suatu hari Minggu, bermaksud makan siang di Kalcit, Nina turun di stasiun Duren Kalibata. Namanya lapar, ngebut saja dia melangkah. Kalcit kan nggak dekat-dekat amat jaraknya dari stasiun, demikian menurut Nina, maka harus ngebut. Cepat! Cepat! Cepat!

Saat melintasi jalur keluar stasiun, sudut mata Nina menangkap sesosok mungil berbalut kaus jambon di sisi kanan. Langkah Nina tak segera terhenti, sebab lapar begitu mencengkeram. Sekilas tadi Nina juga lihat bahwa di dekat sosok mungil itu ada bando-bando cantik yang tersangkut di sebentuk boks plastik. Kakak Bycan cucunya Nina kan suka dengan bando. Tapi, nanti saja deh, “sehabis makan”, begitu pikir Nina. Lapar, nih! Tapi, belum tentu kan sosok tersebut masih ada nantinya, bisik hati Nina yang sebelah sana. Lagi pula, Nina sedang kehabisan persediaan bando untuk kakak Bycan. Maka, Nina pun memutar langkah dan kembali ke jalur keluar tadi. Mendekati sosok mungil yang adalah seorang ibu paruh baya.

Ibu itu tersenyum menyambut Nina yang balas tersenyum. Boks plastik tempat bando-bando cantik tersangkutkan berisi sejumlah benang wol imitasi dan berbagai mote. Variasi warna-warninya meriah dan cerah. Ada juga beberapa bunga rajutan dan perangkat lainnya. Sebagai pelaku kriya, Nina senang melihat itu semua. Tambah semangat hatinya untuk membeli.

“Waduh, bandonya cantik-cantk semua!” jerit Nina dalam hati.

Nina akhirnya memilih dua buah bando. Ah, bukan memilih sebenanrya. Karena bingung, Nina hanya meraih dua bando itu secara acak belaka. Rasanya ingin membeli lebih, tapi hari ini ada urusan sehingga baru malam bisa pulang. Takut bunga-bunga rajut nan cantik itu pada penyet bila terlalu lama tersimpan dalam ranselnya yang sesak. Mungkin lain kali ya, pikir Nina, karena itu, ia merasa perlu untuk bertanya sesuatu dan lain hal pada si ibu mungil itu.

“Ibu setiap hari ada di sini?” tanya Nina.

“Iya, biasanya kalau hari kerja jam empat sore saya ke sini, “ jawabnya.

Dia berkata bahwa tak jauh dari stasiun terdapat sebuah sekolah tinggi entah bidang ekonomi atau apa, yang tampaknya menjadi harapan dn ssarannya dalam memperoleh calon pembeli pekerjaan tangannya.

“Nama ibu siapa?” lanjut Nina bertanya.

“Jeminem”

“Juminem, ya,” Nina mengulang seraya mencoba untuk menanamkan dalam ingatannya.

“Jeminem. Dengan ‘Je’, bukan ‘Ju’. Jeminem,” si ibu sabar menjelaskan.

Aduh, salah! “Oh!” sahut Nina rada malu-malu.

Ibu Jeminem lalu menjelaskan bahwa dia tinggal di kompleks Polri Pangadegan yang tak terlalu jauh jaraknya dari stasiun KRL Duren Kalibata.

"Tanya aja Ibu Jeminem bando, orang tahu semua," katanya.

Nina mencatat keterangan-keterangan Ibu Jeminem dalam hatinya dengan hati-hati.

"Ini bando antipatah. Bisa dicuci," jelasnya lagi sambil mengemas bando-bando tersebut ke dalam kantong plastik hitam kecil—sebenarnya Nina ingin menolak kantong plastik itu, tapi apa boleh buat sebab buat perlu juga untuk melindungi bando-bando belian agar tak kotor atau rusak.

Nina lalu membayar belanjaannya, sambil mengucakan terima kasih.

“Sampai ketemu lagi, Bu. Semoga dagangannya banyak laku...,” salam Nina sebelum berlalu.

Nina benar-benar berharap bisa bertemu lagi. Selalu perlu ada persediaan bando sih...

Tak terlalu lama kemudian, saat makan, Nina mulai menyesal kenapa hanya membeli dua buah bando. Sebab, entah kapan lagi ia bisa mampir ke situ pada saat yang sama dengan hadirnya Ibu Jeminem di tempat itu. Yah, menyesal belakangan itu tidak ada gunanya, Nina...