Thursday, December 4, 2014

Menumpuk Materi

Pada awal 2012 lalu, Nina mengirimkan tulisannya ke sebuah majalah craft terbitan Yogyakarta. Berikut adalah naskah aslinya...

=^.^=



Tiap kali berbelanja persediaan di toko pernik-pernik atau bahan-bahan kerajinan macam manik-manik dan sejenisnya, saya akan membiarkan rasa suka saya berjalan liar. Akibatnya, apa pun yang menarik hati, secara bentuk mau pun (perkiraan-)fungsi, akan saya beli. Dalam jumlah yang tidak sedikit pula. Sesampainya di rumah, belanjaan tadi mungkin akan segera saya pergunakan, tapi mungkin juga hanya akan saya simpan tanpa menyentuhnya sama sekali. Tak terasa, lama kelamaan persediaan pun kian menumpuk. Makan tempat, tentu saja, tapi saya tidak khawatir. Karena, mengenal diri sendiri, saya tahu benar gemasnya perasaan saat ide timbul di kepala, atau ketika keinginan membuat sesuatu datang tiba-tiba namun bahan yang diperlukan tidak ada. Nah, jika segala sesuatunya sudah siap sedia, senangnya hati ini tiada terkira.

Bicara soal kebiasaan menumpuk, sepertinya hal itu sudah menjadi bagian dari kepribadian saya—atau jangan-jangan saya terlahir demikian adanya? Sejak kecil saya kerap menyimpan sampai bertumpuk benda-benda yang oleh orang lain pasti sudah dilempar ke tong sampah begitu saja. Membuat pening kepala orangtua saya. Berbagai jenis kertas adalah benda yang paling banyak saya koleksi. Entah itu majalah gratisan, nota-nota belanja, leaflet kemasan obat, brosur iklan toko, tiket-tiket perjalanan, karton-karton kemasan, dan seterusnya. Saya percaya pasti ada saat di mana ‘sampah-sampah’ tersebut akan berguna juga. Pada akhirnya, bagi saya, nilai dari kertas-kertas pada tumpukan di pojok-pojok rumah pun setara belaka dengan bahan-bahan persediaan macam manik-manik dan sejenisnya yang tak kalah bertumpuknya itu.

Saya ini suka sekali dengan origami, seni melipat kertas asal Jepang. Tapi hanya sedikit bisa, dan favorit saya adalah origami bangau. Masyarakat Jepang percaya bahwa seribu bangau origami, yang dironce dalam sepuluh untai, yang diiringi dengan doa yang kuat tentunya, bisa mewujudkan suatu keinginan. Saat mulai melipat bangau, saya baru berhenti merokok. Ada kebutuhan untuk memberi kesibukan pada jari jemari yang tadinya kerap memainkan batang-batang rokok. Siapa tahu juga seribu bangau yang saya buat bisa mengabulkan keinginan saya agar jauh dari rokok selamanya. Apa pun itu, melipat kertas menjadi bangau ternyata mengasyikan. Dapat pula dilakukan di sembarang tempat. Seperti saat berada di ruang tunggu dokter gigi, ketika berdesakan di halte busway, dalam kendaraan baik itu angkot mau pun pesawat terbang.

Tipe origami lain yang juga merupakan favorit saya adalah hana tsumami. Tsumami itu teknik origami tertentu untuk membuat kelopak-kelopak bunga (hana artinya bunga). Di Jepang-nya kembang-kembang yang kelopaknya dibuat dengan teknik tsumami menjadi penghias rambut para maiko (geisha magang atau calon geisha). Disebut kanzashi, atau secara lengkapnya hana tsumami kanzashi. Sejatinya, materinya adalah sutera chirimen. Namun, kertas pun bisa dipakai, dan cocok sekali untuk belajar teknik tsumami. Sifat kertas yang kaku memudahkan proses melipat dengan teknik tsumami yang gampang-gampang susah itu.

Bila mengenang masa-masa di sekolah dasar dulu, puluhan tahun lalu, ingatan selalu mampir ke sebuah pelajaran prakarya berbahan kertas. Di mana kami diajar guru mengubah kertas menjadi manik-manik cantik. Proses pembuatannya sederhana saja, cukup dengan melinting kertas-kertas yang telah dipotong jadi segitiga meninggi. Belakangan saya pahami bahwa perbedaan ukuran pada dasar segitiga, tinggi si segitiga, dan ketebalan kertas; akan menghasilkan bentuk dan ukuran manik-manik yang berbeda. Dengan pandai-pandai memperkaya pilihan warna, manik-manik kertas dalam koleksi saya pun menjadi sangat bervariasi. Siap diolah dengan paduan manik-manik atau materi lainnya yang tersimpan bertumpuk-tumpuk di rumah.




Seribu bangau origami (foto: Nina Masjhur)

Anting-anting bangau origmai (foto: Nina Masjhur)


Hana tsumami yang terbuat dari kertas bekas brosur (foto Rahmad Gunawan/Tole)

Manik-manik kertas (foto: Rahmat GUnawan/Tole)

Monday, December 1, 2014

Ketoprak-ketoprak Super Enak


"Empang Tiga? Wah, ketopraknya enak tuh!"

Yang di atas adalah sebuah respon dari supir seorang temannya Nina, ketika mendengar nama daerah tempat kami kini menetap.


Amboi, sedemikian terkenalnyakah ketoprak itu, sampai-sampai orang yang tak berdomisili di situ tahu juga?
 Selama ini yang aku tahu, yang kenal dengan ketoprak yang super enak itu, selain Nina tentunya, adalah Te' Py dan Te' Ani. Tentunya, karena kedua ete' itu pernah tinggal di Pondok 60 yang berlokasi tak jauh dari tempat mangkalnya si tukang ketoprak.

Kata Nina, ketoprak Empang Tiga ini enak sekali. Dan, tak hanya enak, porsinya juga cukup besar. Itu sebab Te' Py dan Te' Ani biasanya makan sebungkus berdua. Sedangkan Nina tak punya teman berbagi berhubung baik aku dan adik-adikku tidak suka makanan itu. Oleh karenanya, pada pesanannya ia meminta supaya ketupatnya dikurangi. Setengah saja, atau seperempat. Atau, tanpa ketupat  sama sekali.

Apa yang membuat ketoprak di Empang Tiga ini enak? Sudah pasti karena racikannya yang
pas donk ahgitu aja koq nggak tau hehe... Selain itu, kekentalann bumbunya juga membedakannya dengan umumnya ketoprak lainnya. Yah, walaupun ternyata ada yang merasa saus kacangnya masih terlalu encer sih! Semisal yang pada suatu hari dikatakan oleh seorang perempuan muda dengan permintaan yang tak umum.

Eh permintaan tak umum? Apa itu? Kalo permintaan umum
kan yang seperti Ini: pedas, jangan pedas, jangan pakai kecap, kecapnya dikurangi, kecapnya ditambahi, jangan pakai bawang, bawangnya diperbanyak, ketupatnya sedikit saja, dan... sejenisnya lah.

"Kuahnya yang kental ya, " demikian permintaan tak biasa perempuan muda tadi.


Kuah? Hahaha..., memangnya soto!?


Setelah memesan, si perempuan muda tadi
ngeloyor. Mungkin ke salah satu minimarket yang berada di sekitar. Ia kembali ketika pesanan sudah selesai.

"Kuahnya pasti encer ya," katanya melotot.


Duh, bawel ya... Dan, agak kasar begitu penyampaiannya.


Tapi sepertinya Mas Sinun, si tukang ketoprak Empang Tiga kita ini, berhasil meyakinkan si mBak itu bahwa kuahnya dijamin pasti kental. Sesuai dengan permintaannya tadi. Si mBak pun berlalu.


Kalau permintaan khusus Nina adalah, bawang putihnya didobelkan. Hmmm..., sepertinya ini permintaan tak umum juga deh. Mungkin karena itu Mas Sinun jadi hafal. Setiap Nina datang memesan, dia sudah tahu apa permintaan spesial Nina. Termasuk pedas yang sedang dan ketupat
separo. Nina cukup berkata, "yang biasa ya", dan pesanan seseuai seleranya pun terhidang. Kalau sedang tak ingin pakai kertupat, Nina akan memberitahu Mas Sinus sebelum ia mengoperasikan uleg kayunya.

Tiap malam pelanggan Mas Sinun sangatlah banyak. Karena itu sehari-harinya ia dibantu oleh seorang asisten. Kalau tanpa asisten, seperti yang pernah disaksikan oleh Nina, kelihatan sekali kerepotannya. Ditambah dengan melambatnya pelayanannya kepada pelanggan. Ganti berganti asistennya, siapa saja yang bisa. Tak ada yang tetap. Suatu saat, asistennya adalah kakak kandungnya sendiri. Mas Andri namanya. Dua kakak beradik ini sangat mirip
lho wajahnya! Seperti orang kembar saja, demikian menurut Nina.

Pertama kali Nina bertemu dengan Mas Andri adalah sebelum Mas Andri mengasisteni adiknya. Yaitu, di satu siang pada suatu hari tak terlalu lama setelah kami pindah ke daerah ini. Kala itu terdengar oleh Nina yang kebetulan sedang tak pergi ke luar rumah, suara dentingan sendok logam dipukulkan ke piring nun dari kejauhan. Nina lari ke pintu pagar, dengan harap-harap cemas bahwa itu adalah suara tukang ketoprak. Sebab, mungkin saja itu sebenarnya adalah tukang bakso. Entah kenapa tukang bakso masa kini banyak yang memakai suara dentingan hasil pukulan sendok ke piring. Tak lagi memakai ketokan kayu berongga.


Sesampainya di luar pagar,
pas kebetulan sebuah gerobak ketoprak melintas perlahan. Nina pun memanggilnya.

"Mas, mas ini yang biasa jualan di sana, bukan?" tanya Nina ketika si mas ketoprak asyik menguleg bumbu—waktu berkata 'di sana', tangan kanannya menunjuk ke arah biasanya Mas Sinun mangkal berjualan. Pada saat itu Nina belum tahu bahwa tukang ketoprak
 Empamg Tiga itu bernama Sinun.

"Bukan, saya kakaknya. Dia adik saya yang bungsu".


Si Kakak, yang belakangan diketahui bernama Andri itu, berkata betapa baiknya nasib sang adik. Punya pelanggan tetap, setiap malam tinggal mangkal di satu tempat tertentu. Pelanggan yang mendatanginya. Tidak perlu susah payah berkeliling mendorong gerobaknya ke sana ke mari seperti kakaknya.

Mas Andri lalu menambahkan, bahwa kadang ia mangkal di beberapa tempat yang antara lain di depan stasiun Pasar Minggu Baru. Tapi, pelanggannya tak menentu.

Bila membantuk adiknya jualan, Mas Andri tak berjualan ketopraknya sendiri. Sebab ia juga harus membantu persiapan dagangan si adik. Tak ada waktu dan tenaga untuk juga berjualan sendiri pastinya.


Selain yang di Empang Tiga, ada satu lagi ketoprak kesukaan Nina. Ketoprak Alex, demikian namanya. Tukang ketoprak yang sekitar jam lima sampai jam tujuh sore/malam
nangkring di jalan Antara, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Alex adalah nama tukangnya. Ketopraknya juga enak, sausnya juga medok.

Belakangan ini kalau Nina memesan, Alex tidak menghidangkannya di piring. Melainkan, dibungkusnya. Sebab, Nina kalau makan lama karena sambil sibuk dengan komputernya. Padahal, paling lambat jam tujuh si Alex itu sudah harus beranjak meninggalkan jalan Antara. Pangkalan yang paling ditujunya karena jauh lebih ramai pelanggannya adalah sebuah tempat yang lebih ke barat dari jalan Antara.


Aku pernah bertanya pada Nina mana yang lebih enak, antara racikan mas Sinun dan Alex. Katanya, sama-sama enaknya. Rasanya beda, tapi levelnya sama. Tapi ada sedikit perbedaan, Alex selalu menambahkan cacahan ketimun pada ketopraknya.


Konon, ketoprak asal Cirebon, daerah tempat Alex berasal, memang memakai cacahan ketimun sebagai salah satu elemen ketopraknya. Gerobak ketoprak Cirebon modelnya berbentuk biasa, yang kalau tak cermat orang bisa salah kira sebagai gerobak mata dagangan lain. Warnanya juga sesukanya saja. Sementara ketoprak Tegal, tempat asalnya Mas Sinun, gerobaknya berbentuk khas: bagaikan perahu. Dengan cat warna merah yang lebih dominan, dan sedikit hijau


OK, jadi ada yang namanya ketoprak Cirebon, dan ada yang namanya ketoprak Tegal. Tapi, Nina dulu bilang padaku bahwa ketoprak adalah makanan khas jakarta. Bagaimana ini!?—Nina yang kutanya hanya bisa cengengesan. Tak berguna sama sekali!!!   =^.^=


Ketoptak Mas Sinun



 

Kisah di Satu Hari Sabtu


Di satu hari Sabtu nan mendung, Nina menikmati akhir minggu dengan cara bermalas-malasan di tempat tidur bersama adik-adikku. Sementara aku yang sejak semalam berjaga di luar, masih belum dibukakan pintu karena Nina asik bermalas-malasan begitu—padahal aku sudah mengetuk-ketuk kaca jendela beberapa kali, dan, lihat sudah jam berapa ini huh...

Hari sudah menunjukkan jam satu siang liwat sedikit. Dari pagi tadi Nina terombang-ambing antara membaca dan tidur. Bila di tengah membaca matanya terasa berat, dibiarkannya matanya tersebut ditarik oleh gaya tarik bumi. Beberapa menit terbangun lagi, membaca lagi, mata berat lagi, terbangun lagi... Begitu terus. Sampai tiba-tiba telepon genggam #2 berdering. Telepon masuk. Nomor tak dikenal.


Biasanya, kalau ada telepon dengan nomor tak dikenal, Nina tak akan menyahut. Namun, kali ini entah kenapa, Nina melakukan hal yang sebaliknya. Mungkin karena setengah mengantuk
tuh.

Dari sebelah sana suara seorang wanita muda renyah menyapa. Mengaku berasal dari bank di mana Nina mempunya rekeningnya. Ada ia sebut namanya, tapi, sudah tentu Nina tak mengingatnya lagi.


"Ibu masih aktip memakai kartu kredit bank kami, Bu?" tanyanya sopan.


"Masih," jawab Nina
separo merem.

Padahal, entah berapa tahun kartu itu tidak pernah dipakainya.


"Karena itu Ibu mendapat penghargaan dari kami dengan memberikan Ibu kartu platinum bank kami," lanjutnya.


Hohoho..., peliharaanku si Nina ini tidak bodoh
lho. Tidak juga kurang pengalaman untuk memahami bahwa kata 'penghargaan' tersebut hanya pemanis kata di bibir.

Dikatakannya, bahwa kartu platimun tersebut diterbitkan bekerjasama dengan perusahaan penerbangan AxxAxxx. Oleh karenanya, katanta bersama dengan kartu itu Nina akan langsung dapat 500 poin yang segera dapat ditukarkan dengan tiket penerbangan dengan tujuan yang ditentukan oleh Nina.


Sudahlah, pikir Nina.


"
Nggak usah aja, mBak, saya nggak berminat," kalem Nina berucap.

"Kenapa, Bu!?
Kan sayang... Karena, ngakngekngok ngakngekngok ngakngekngok. Maka nanti Bu ngakngekngok ngakngekngok ngakngekngok lho!!!" si mBak berusaha keras membujuk.

Ada dua atau tiga kali Nina berusaha untuk menolak. Tapi, si mBak
kekeh surekeh dengan gigihnya.

"ini pasti ada iuran tahunannya, kan," Nina masih bekeras juga.


"Tahun pertama ini bebas dari iuran, baru tahun kedua nanti ada iuran tahunannya. Saat itu, kalau Ibu bermaksud untuk membatalkannya, tidak masalah. Terserah Ibu," bujuk si mBak.


Haaa..., pikir Nina, menjelang tahun kedua nanti pasti akan ada serangn bujukan lagi agar tetap menjadi anggauta.


Di titik ini Nina yang mengantuknya sudah hilang, akhirnya menyerah. Maka, dimulailah proses administrasi melalui teleponnya.


"Alamat Ibu di jalan anu anu anu, blok itu itu, nomor sekian, Jakarta; ya Bu?"


"
Nggak, saya udah pindah".

Dan Nina diminta untuk menyebutkan alamat baru. Lalu, ditanyakannya nomor telepon rumah.


"
Nggak ada," Nina menjawab.

"Kalau nomor
hp ini saja ya, Bu. Ada nomor lainnya?"

"
Nggak ada".

Alamat surat elektronik pun ditanya. Lalu, pertanyaan tentang status menikah dilontarkan.


"Saya tidak menikah," jelas Nina.


"Oh, Ibu belum menikah ya," jawab si mBak.


"Salah, bukannya belum, tapi tidak menikah. Saya TIDAK menikah. Bukannya belum!"


Percayalah, Nina harus mengulang sekurangnya satu kali lagi pernyataabbya untuk urusan status itu.
 Pada akhirnya si mBak seperti paham, tapi Nina tahu pasti bahwa yang tercantum adalah belum menikah. Mana ada kolom tidak menikah di formulis resmi apapun di negara ini

Ketika ditanya alamat kantor di mana, begini Nina menjawab.


"Saya tidak ada kantor. Kadang bekerja di rumah, kadang di jalan, kadang di kantor
temen, tapi bisa juga dari kafe ke kafe".

Atas keterangan Nina itu, si mBak sepertinya bingung
tuh...

Pertanyaan berikut, apa pekerjaan Nina.


"Macem-macem, mBak," Nina berkata sambil
cengengesan sendiri.

"Misalnya, apa, Bu?"


"Kadang-kadang begini, tempo-tempo begitu, tapi sering juga
begono"

Mungkin puyeng, lalu si mBak menyatakan bahwa pekerjaan Nina adalah apa yang disebut Nina terakhir. Terserah
deh, pikir Nina.

Berikutnya, ditanyakan siapa kontak untuk keadaan darurat. Nina menyebutkan nama adik bungsunya yang memang selalu diajukannya sebagai kontak darurat.


"Nomor telepon adik Ibu berapa?"


"Wah, saya
nggak berani memberikan nomor telepon orang lain, mBak!"

"Tapi ini penting, Bu. Bagaimana kami dapat menghubungi beliau kalau ada keadaan darurat?"


Baiklaaaaaah... Nina lalu memberikan satu nomor telepon genggam adiknya yang diketahuinya sudah tak aktip. Jadi, kalau disalahgunakan, ya tak bisa.


"Baiklah, Bu, kami akan segera mengirimkan kartunya ke alamat Ibu," kata si mBak yang menyangka sudah sukses dengan misinya.


"Kalau mau kirim jangan ke rumah, tapi saya ada sebuah alamat yang saya pinjam untuk meenrima kiriman-kiriman. Saya jarang di rumah
sih...," sergah Nina.

"Sebelum datang, kami akan telepon terlebih dahulu, Bu".


"Percuma, sudah bisa dipastikan saat ditelpon saya sedang tidak di rumah. Atau, kslsupum sedang di rumah, sudah hampir pergi dan tidak bisa menunggu," jelas Nina.


Sekali lagi, terjadi diskusi tak juntrung. Akhirnya si mBak menyerah. Nina pun memberikan sebuah alamat.


"Nomor telepon kantor itu berapa?"


"Wah, saya
nggak tau".

"Kalau Ibu hendak kontak ke sana, bagaimana?"


Yeeeeee,
hare geneeeh...

"Biasanya saya langsung menelpon ke
hp masing-masing orang di sana sesuai dengan keperluan," jawab Nina.

"Ibu di sana sebagai apa?" si mBak mengalihkan pertanyaan.


"Saya tidak bekerja tetap di sana. Kadang-kadang saja bantu-bantu".


"Oooh, kalau begitu ibu bekerja sebagai itu-itu ya di sana," si mBak
ngotot lagi.

Itu-itu maksudnya adalah pekerjaan yang tadi disimpulkannya sebagai pekerjaan Nina.


"Bukan, mBak. Aduh, kenapa
sih harus tahu saya ngapain di sana?" Nina mulai bernada tinggi.

"Kami bisa saja mengirimkan kartunya ke alamat rumah Ibu,
koq" si mBak menjelaskan.

"Ya sudah, terserah mBak
aja deh apa pekerjaan saya di situ!"

Si mBak segera menyimpulkan pekerjaan Nina sesukanya dia, lalu melanjutkan pertanyaannya.


"Berapa gaji bulanan Ibu di sana?"


"Wah,
nggak tau ya, saya kan bukan pekerja tetap di sana".

"Kira-kira saja, Bu".


"Ya
nggak tau," Nina semakin tinggi tensinya.

"Apakah x juta, atau xx juta sebulannya? Atau, mungkin xxx juta?" si mBak seolah menolong, padahal memaksa.


"Aduh, mBak, kenapa
sih sampai segitunya menanyakan soal gaji!?"

"Ya kalau tidak, bisa saja kami mengirimkan kartunya ke alamat rumah ibu!"


Ucapan terakhir si mBak membuat tensi Nina semakin meroket ke langit.


"mBak, saya mulai
capek deh dengan urusan ini! Saya kan sebenarnya sama sekali tidak berminat dengan kartu kredit itu, tapi mBak memaksa. Memaksa saya juga tentang info-info ini-itu," kata Nina. Lalu, disambungnya dengan lebih perlahan namun tetap judes, "Dengar baik-baik, ya mBak, saya akan tutup telponnya sekarang!"

Telpon pun dimatikannya.


Nina lega karena akhirnya bisa keluar dari cengkeraman si mBak pemaksa tadi. Tapi, sebal karena sekarang matanya menjadi melek bulat-bulat. Hilang kantuknya yang terasa asik tadi itu. Huh, gerutunya. Dirinya bear-benar merasa bahwa harinya yang damai telah dirusak. Dengan alasan untuk mengobati hatinya dari kesebalan-kesebalan itu, tak lama Nina bersiap pergi menonton ke bioskop. Untung saja film-nya bagus, sangaaat bagus, sehingga spirit Nina naik lagi dan terperbaikilah hatinya.


Pada mau tahu film apa yang ditontonnya? Nah. Buat yang
kepo, ini dia: Big Hero 6.   =^.^=

Thursday, November 27, 2014

Shinnosuke Nohara

Yuhu..., ini lagi-lagi tulisan Nina. tentang sebuah manga dan anime Jepang. Bacalah...


=^.^=



Masih ingat dengan heboh komik asal Jepang Sin-chan—dan mungkin juga anime-nya yang di tayangkan sebuah stasiun televisi swasta—yang merebak beberapa tahun lalu? Waktu itu, para orangtua tiba-tiba menjadi berang akan polah tingkah bocah tokoh utama di komik yang kerap mereka beli untuk anak-anak kesayangan mereka. Kelakuan yang dianggap sebagai kelakuan yang tidak senonoh dari sorang bocah, sehingga perlu melarang anak-anaknya membaca dan/atau menontonnya. Pokoknya, sungguh-sungguh heboh deh.

Saya tak ingat adegan mana dan bagaimana tepatnya yang membuat para orangtua tersebut menjadi kebakaran jenggot macam itu. Tapi, saya ingat ada sepotong percakapan dari seorang keponakan yang rupanya sudah berhasil ‘dididik’ oleh orangtuanya, kepada keponakan yang lain.

“Ih, jangan baca komik Sin-chan! Jorok!!!” Maksud jorok di sini adalah porno tentunya.

Mendengarnya, saya tak tahan untuk tidak nyengir. Lalu, belagak bijak dan coba-coba menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan komik tersebut kepada dua keponakan tadi. Kata saya, memang sebetulnya Sin-chan itu bukan komik anak-anak, maka, jorok atau tidak, ya tak pantas saja bila dibaca oleh anak-anak. Penjelasan ini tidak bisa diterima oleh akal mereka. Saya tak heran, sebab, umumnya pengertian komik, dan juga anime yang kadang disebut sembarangan sebagai film kartun, digeneralisasikan sebagai media untuk anak-anak. Nah…

Kenyataannya, oleh mangaka-nya (penciptanya), almarhum Yoshito Usui, manga (komik Jepang) Sin-chan—yang judul aslinya Crayon Sin-chan, memang tidak dibuat untuk anak-anak. Saya tidak ingat lagi di mana saya membaca hal ini, atau apakah ini merupakan hasil pembicaraan dengan teman-teman sesama penggemar manga di saluran mIRC waktu itu, bahwa Sin-chan diciptakan untuk orang-orang dewasa mentertawakan diri mereka sendiri. Tentang hidup yang sedemikian heboh karena kehadiran anak bandel semacam Sin-chan. Sesuatu yang, saya rasa, bukan hal yang asing dalam kehidupan nyata sehari-hari. Sebagai contoh, sekurangnya satu kali dalam kehidupan ini kita pasti pernah melihat bagaimana seorang bocah memanggil ibunya dengan nama si ibu, sebagaimana yang kerap dilakukan oleh Sin-chan—“Misao!!! Misao!!!” demikian Sin-chan. Mengapa bisa begitu, mungkin Anda akan bertanya. Jawabannya sederhana saja, anak, sebagai proses belajar dalam hidupnya, cenderung mencontoh orang dewasa—ayahnya Sin-chan kan memanggil ibunya dengan nama kecilnya, Misao.

Di Jepang, manga Sin-chan ini disebut sebagai seinen, yang sasaran pembacanya adalah laki-laki dewasa dengan rentang usia antara 20 sampai dengan 40 tahunan. Sebagai penjelasan, seinen itu sendiri merupakan satu dari sejumlah kategori manga yang ada. Kategori lainnya antara lain adalah josei (untuk perempuan dewasa dengan rentang usai antara 17-18 tahun sampai 30-40 tahunan, dan dikenal juga sebagai ledikomi atau redikomi, lafal Jepang untuk kata ladies’ comics), shounen (untuk anak laki-laki antara 10 sampai 20 tahun), shoujo (untuk anak perempuan usia 10 sampai 17 tahun), dan kodomo-muke yang diperuntukan bagi anak-anak, laki-laki dan perempuan, usia 10 tahun ke bawah. Disamping sejumlah kategori lain yang berdasarkan pada bidang minat tertentu semisal sejarah, robot-robotan dan lain-lainnya, yang sering-sering bisa termasuk juga ke dalam kategori yang telah telah saya jelaskan tadi. Lalu, menyusul adalah, beberapa sub-kategori lainnya. Banyak ya ternyata…

Kalau Sin-chan adalah seinen dan bukan kodomo-muke, kenapa tokoh utamanya anak-anak yang berusia lima tahun? Demikian pertanyaan yang mungkin akan tercetus. Kalau bertanyanya ke saya, saya akan menjawab bahwa di situ lah letak kecerdasan dari manga ini, yang memakai sudut pandang anak kecil untuk melihat permasalahn orang-orang dewasa. Menarik, kan?

Masing-masing kategori manga sebenarnya mempunyai ciri khas tersendiri. Latar belakang sebuah frame pada josei, misalnya¸ cenderung kosong atau bersih dari gambar-gambar latar, atau dengan pemakaian tone yang sangat minimal. Seinen dikenal kerap menghadirkan gambar yang lebih realistis, sampai-sampai bila ceritanya tentang kekerasan, adegannya bisa menjadi sangat disturbing. Namun, Usui-san menggambar Sin-chan dengan teknik yang sederhana, dengan garis-garis yang tipis saja. Sin-chan memang bukan satu-satunya manga seinen yang gambarnya tidak realistis, tapi buat saya kesederhanaan teknik menggambar Usui-san di sini merupakan salah satu daya tarik dari manga ini.

Tadi sudah disebutkan bahwa judul asli dari manga ini adalah Crayon Sin-chan. Kata crayon (krayon) dipilih karena alat menggambar ini merupakan sarana yang banyak dipakai di taman kanak-kanak, tempat Shinnosuke Nohara—nama lengkap Sin-chan—bersekolah. Tambah lagi satu hal yang menarik dari manga ini. Tapi, mungkin justru karena sebegitu kentalnya nuansa kanak-kanak pada judul manga ini, justru orang lalu menganggap Sin-chan sebagai material hiburan buat anak-anak. Anggapan yang tentu saja terbentuk oleh dukungan presepsi salah kaprah yang sudah berakar kuat. Bahwa komik dan anime merupakan bacaan anak-anak belaka. Stereotip yang absurd…

Kenapa ya, bisa demikian? Padahal, kalau orang berbicara tentang komi-komik Marvel, atau komik-komik lokal macam Si Buta Dari Gua Hantu atau Gundala Putra Petir, orang akan langsung memahaminya sebagai bukan bacaan anak-anak. Jadi, kenapa dong stereotip di atas tidak bisa diangkat dari jenis-jenis komik lainnya? Sungguh sebuah misteri…



(Yoshito Usui yang pamit untuk pergi mendaki gunung, pada 12 September 2009 dilaporkan hilang oleh keluarganya. Pada 19 September-nya, jenazah laki-laki yang berpakaian yang sama dengan yang dikenakan Usui sesuai dengan laporan dari keluarganya, ditemukan di Gunung Arafune di Perfektur Gunma. Berdasarkan catatan gigi [dental record], keluarga Usui menyatakan jenazah tersebut adalah almarhum Usui)